Oleh: dankfsugiana | 10 ,September, 2009

TEORI KELOMPOK YANG DIBUNGKAM (MUTED GROUP THEORY)

Oleh: Dadang Sugiana

Latar Belakang Teori
Sudah dari sejak dulu, para ahli antropologi berusaha untuk memahami budaya dengan melakukan penelitian lapangan dan menulis etnografi. Melalui cara kerja yang dilakukan para antropolog tersebut diharapkan sebuah budaya akan dapat dideskripsikan dengan detail, komplet dan akurat.Pada pertengahan tahun 1970, dua orang antropolog, Edwin Ardener (1975) seorang antropologis sosial dari Oxford University dan Shirley Ardener (1978) sebagai rekan kerjanya menunjukkan minat untuk melihat cara kerja para antropolog budaya tersebut di lapangan. Mereka melihat bahwa ternyata para antropolog melakukan penelitiannya dengan lebih banyak berbicara dan bertanya kepada kalangan laki-laki dewasa pada suatu budaya tertentu untuk kemudian mencatatnya dalam etnografi sebagai gambaran budaya secara keseluruhan. Sehingga tidak seluruh porsi dari deskripsi budaya tersebut, seperti perempuan, anak-anak, dan posisi dari pihak yang tak berdaya lainnya, disajikan sebagai bagian dari cerita budaya tesebut.Edwin Ardener dalam monografinya, “Kepercayaan dan Problem Perempuan” mengemukakan kecenderungan aneh di kalangan etnografer yang mengklaim harus “meretakkan kode” dari sebuah budaya tanpa membuat referensi langsung pada setengah masyarakat yang terdiri dari kalangan perempuan. Para peneliti lapangan seringkali membenarkan kelalaian tersebut dengan melaporkan bahwa sulitnya menggunakan perempuan sebagai informan budayanya. Menurut mereka, perempuan muda terkikih-kikih, perempuan tua mendengus, mereka menolak pertanyaan dan menertawakannya, secara umum hal tersebut menyulitkan para peneliti yang dididik dalam metode penelitian saintifik yang maskulin. Hal ini disebabkan karena bahasa yang digunakan oleh perempuan bersifat rapport talk, yaitu cenderung berbicara untuk membangun keakraban dan membutuhkan penerimaan orang lain dalam berbahasa, sehingga bagi para etnografer itu menyulitkan mereka, sedangkan bahasa yang digunakan oleh laki-laki lebih bersifat report talk, yang cenderung hanya untuk memberikan penjelasan dan tidak dalam rangka membangun keakraban, dan hal ini justru memudahkan etnografer untuk memperoleh banyak penjelasan dari kalangan laki-laki.
Ardener awalnya berasumsi bahwa kurangnya perhatian terhadap pengalaman perempuan adalah sebuah masalah gender yang unik pada antropologi sosial. Tetapi hal ini kemudian ditelusuri lebih lanjut oleh rekan kerjanya, Shirley Ardener, yang menyadari bahwa kebungkaman kelompok yang kurang kekuasaan menimpa kelompok-kelompok yang menempati tempat yang paling akhir dari tingkatan masyarakat. Orang-orang yang hanya memiliki kekuasaan yang rendah bermasalah dengan persoalan menyuarakan persepsi-persepsi mereka. Ardener mengatakan bahwa struktur kebungkaman mereka ‘ada’ tetapi tidak bisa dicapai dari struktur bahasa dominan. Hasilnya adalah mereka dipandang rendah, diredam, dan dibuat tak tampak, sebagaimana “lubang hitam” belaka dalam alam orang lain.
Edwin Ardener membuktikan bahwa fenomena ini memiliki dua segi. Pertama, para peneliti antropologi (yang biasanya orang kulit putih) tidak mendengarkan suara-suara dari kalangan yang tidak berdaya (powerless), karena mereka biasa menyimak dari kalangan laki-laki dan mendengarkan bahasa laki-laki, mereka tidak mencari atau memahami suara-suara dari kalangan perempuan dalam proses penelitiannya. Perempuan dalam hal ini dipandang sebagai pihak yang sukar berbicara oleh para peneliti, dan Edwin Ardener menyatakan bahwa “jika laki-laki menampilkan ‘pandai berbicara’ dibandingkan dengan perempuan, ini adalah sebuah kasus dari yang suka berbicara kepada yang suka”. Kedua, melampaui ketulian ini dari pihak laki-laki, kalangan perempuan “dibungkam” selama penelitian. Shirley Ardener melihat proses ini sebagai kejadian overtime: “Kata-kata yang secara kontinyu menyerang telinga yang tuli, tentu, akhirnya menjadi tidak diucapkan. Siklus ketulian dan kebisuan ini dipergunakan sebagai basis untuk teori kelompok yang dibungkam. Melalui pengamatan yang mendalam oleh Ardener, tampaklah bahwa bahasa dari suatu budaya memiliki bias laki-laki yang inheren di dalamnya, yaitu bahwa laki-laki menciptakan makna bagi suatu kelompok, dan bahwa suara perempuan ditindas dan dibungkam. Perempuan yang dibungkam ini, dalam pengamatan Ardener, membawa kepada ketidakmampuan perempuan untuk dengan lantang mengekspresikan dirinya dalam dunia yang didominasi laki-laki.
Teori kelompok yang dibungkam ini kemudian dikembangkan secara lebih lengkap oleh Cheris Kramarae dan koleganya. Kramarae adalah profesor speech communication dan sosiolog di Universitas Illinois. Dia juga profesor tamu di Pusat Studi Perempuan (Center for the Study of Women) di Universitas Oregon, dan baru-baru ini sebagai dekan di Universitas Perempuan Internasional (the International Woman’s University) di Jerman. Dia memulai karier penelitiannya pada tahun 1974 ketika dia memimpin sebuah studi sistematik mengenai cara-cara perempuan dilukiskan dalam kartun.
Kramarae menemukan bahwa perempuan dalam kartun biasanya dilukiskan sebagai emosional, apologetik (peminta maaf/penyesal), dan plin-plan sedangkan pernyataan yang sederhana dan kuat disuarakan oleh laki-laki.
Teori ini telah difasihkan terutama sebagai teori feminis, dengan perempuan sebagai kelompok yang dibungkam, tetapi bisa juga diterapkan pada kelompok budaya terpinggirkan lainnya. Sebagaimana dijelaskan Orbe (1998), “Di dalam masyarakat yang memelihara hubungan kekuasaan yang asimetris, kerangka kelompok yang dibungkam berada.” Dalam lingkup komunikasi, teori ini termasuk konteks kultural yang mengkaji gender dan komunikasi dan salah satu dari teori kritis.
Cheris Kramarae sendiri menyatakan bahwa bahasa itu benar-benar sebuah konstruksi yang dibuat oleh laki-laki.
• Bahasa sebagai bagian dari budaya tidak menggunakan semua pembicara secara sama, karena tidak semua pembicara berkontribusi pada cara formulasi yang sama. Perempuan (dan anggota kelompok subordinat lainnya) tidak bebas atau tidak semampu laki-laki untuk mengatakan apa yang mereka inginkan, kapan dan dimana mereka menginginkan, karena kata-kata dan norma yang mereka gunakan telah diformulasi oleh kelompok laki-laki yang dominan (Griffin, 2003: 487).
Oleh karena itu, kata-kata yang digunakan kalangan perempuan dipotong dan pemikiran perempuan juga didevaluasi (diturunkan nilainya) dalam masyarakat kita. Ketika perempuan mencoba untuk mengatasi ketidakadilan ini, kontrol komunikasi yang maskulin menempatkan mereka pada kerugian yang sangat besar. Bahasa yang dibuat laki-laki menjadi alat dalam mendefinisikan, menurunkan dan meniadakan keberadaan perempuan, sehingga perempuan pun menjadi kelompok yang dibungkam.

Premis dari teori
Teori ini memandang bahwa bahasa adalah batasan budaya, dan karenanya laki-laki lebih berkuasa dari perempuan, laki-laki lebih mempengaruhi bahasa sehingga menghasilkan bahasa yang bias laki-laki. Hal ini terjadi, karena bahasa dari budaya yang khusus tidak menyajikan semua pembicara (speakers) secara sama, tidak semua pembicara berkontribusi dalam formulasi cara yang sama. Perempuan (dan anggota dari kelompok subordinat) tidak sebebas dan semampu laki-laki untuk mengatakan apa yang mereka inginkan, kapan, dan di mana, karena kata-kata dan norma untuknya menggunakan formulasi dari kelompok dominan, yaitu laki-laki.

Asumsi-asumsi Pokok
Kramarae (1981) merancang tiga asumsi yang berpusat pada sajian feminisnya dari teori kelompok yang dibungkam, yaitu:
1. Perempuan merasakan dunia yang berbeda dari laki-laki karena perempuan dan laki-laki memiliki pengalaman yang sangat berbeda. Pengalaman yang berbeda ini berakar pada divisi kerja masyarakat.
2. Karena laki-laki merupakan kelompok yang dominan di masyarakat, sistem persepsi mereka juga dominan. Dominasi ini menghalangi kebebasan ekspresi dari dunia model alternatif perempuan.
3. Sehingga, agar berpartisipasi dalam masyarakat, perempuan harus mentransformasi modelnya dalam term sistem ekspresi yang dominan tersebut.
Karena pengalaman perempuan di dunia yang berbeda, maka mereka merasakan dunia yang berbeda pula. Perbedaan ekspresi ini seringkali terlihat pada perbedaan antara dunia kerja publik, komersial, dan kompetisi serta dunia privat rumah, keluarga, dan pengasuhan. Perbedaan pengalaman ini mempertajam perbedaan persepsi antara laki-laki dan perempuan.
Teori kelompok yang dibungkam melalui konsep persepsi ini membawa proses komunikasi pada garis terdepan. Khususnya, teori kelompok yang dibungkam mengemukakan bahwa karena kelompok dominan (khususnya laki-laki kulit putih Eropa) mengontrol makna ekspresi publik seperti pada kamus, media, hukum, dan pemerintah, maka gaya ekspresi mereka mempunyai hak istimewa (privileged). Sokongan komunikasi laki-laki kulit putih ini akan memasukkan segala sesuatu dari perspektif dominansi rasionalitas publik dan organisasional yang berbicara dengan menggunakan metafora untuk memberikan komentar dan lelucon yang menghina perempuan.
Cara-cara perempuan dalam berbicara seperti wacana emosional, metafora yang relevan dengan kehidupan rumah, tidak akan memiliki tempat dalam dunia laki-laki dan laki-laki akan mengklaim bahwa mereka tidak dapat memahami perempuan atau mode ekspresinya. Melalui proses yang meliputi ejekan, ritual, penjagaan gawang, dan pelecehan, perempuan akan dibuat bisu atau sukar berbicara dalam forum diskursus publik. Tegasnya, perempuan akan sering merasa tidak nyaman berbicara dalam arus utama masyarakat, karena harus menerjemahkan gagasannya ke dalam bahasa komunikasi publik yang didominasi laki-laki, sehingga perempuan dianggap tidak sederhana/simpel dalam berbicara, atau akan menggunakan bentuk-bentuk interaksi “bawah tanah” seperti catatan harian, jurnal, atau ruang obrolan khusus perempuan.
Hal ini menunjukkan bukti-bukti dari teori kelompok yang dibungkam, yaitu adanya bias leksikal pada bahasa publik, seperti pada kartun, metafora, term cara berbicara/logat perempuan, serta term aktivitas seksual; perempuan kurang disajikan dalam media, textbook, cyberspace, dan sebagainya; perempuan harus menggunakan sistem ekspresi publik yang berorientasi laki-laki; serta perempuan menggunakan ruang privat, jalur “back channel” untuk mendiskusikan pengalamannya.
Kramarae (dalam Miller, 2002: 293) juga mengembangkan tujuh hipotesis mengenai Teori Kelompok yang Dibungkam, yaitu,
• Perempuan kemungkinan besar lebih sulit mengekspresikan diri mereka sendiri dalam cara-cara ekspresi publik yang dominan dibandingkan laki-laki. Ekspresi perempuan biasanya kekurangan kata-kata untuk pengalaman yang feminin, karena laki-laki tidak berbagi pengalaman tersebut dan tidak mengembangkan istilah-istilah yang memadai.
• Laki-laki lebih sulit daripada perempuan dalam memahami makna anggota dari gender lain. Bukti dari hipotesis ini dapat dilihat pada berbagai hal, misalnya laki-laki cenderung menjaga jarak dari ekspresi perempuan karena mereka tidak memahami ekspresi tersebut; perempuan lebih sering menjadi objek dari pengalaman daripada laki-laki; laki-laki dapat menekan perempuan dan merasionalkan tindakan tersebut dengan dasar bahwa perempuan tidak cukup rasional atau jelas, sehingga perempuan harus mempelajari sistem komunikasi laki-laki, sebaliknya laki-laki mengisolasi dirinya dari sistem komunikasi perempuan.
• Perempuan kemungkinan akan menemukan cara untuk mengekpresikan diri mereka sendiri di luar cara-cara ekspresi publik dominan yang digunakan oleh laki-laki baik dalam konvensi verbal maupun perilaku nonverbal mereka. Perempuan lebih mengandalkan ekspresi nonverbal dan menggunakan bentuk-bentuk nonverbal yang berbeda dengan yang digunakan laki-laki, karena mereka secara verbal dibungkam. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa misalnya, ekspresi wajah, “vocal pauses”, dan gerak tubuh lebih penting pada komunikasi perempuan dibanding komunikasi laki-laki. Perempuan juga cenderung menunjukkan lebih banyak perubahan ekspresi dalam percakapan.
• Perempuan kemungkinan besar lebih menyatakan ketidakpuasan pada cara-cara ekspresi publik dominan laki-laki. Perempuan mungkin akan berbicara lebih banyak mengenai persoalan mereka dalam menggunakan bahasa atau kesukarannya untuk menggunakan perangkat komunikasi laki-laki.
• Perempuan menolak untuk hidup dengan gagasan-gagasan dari organisasi sosial yang ditangani oleh kelompok dominan dan akan mengubah cara-cara ekspresi publik dominan karena mereka secara sadar dan secara verbal menolak gagasan tersebut. Himbauan bagi kebebasan perempuan telah mengembangkan bentuk-bentuk komunikasi yang berbeda yang melibatkan pengalaman-pengalaman perempuan, seperti yang dilakukan oleh kelompok-kelompok penyadaran.
• Perempuan tidak seperti laki-laki dalam menciptakan kata-kata yang diakui secara luas dan digunakan oleh laki-laki maupun perempuan. Konsekuensinya perempuan merasa tidak dianggap berkontribusi terhadap perkembangan bahasa.
• Selera humor perempuan akan berbeda dari selera humor laki-laki. Hal ini disebabkan karena perempuan memiliki konseptualisasi dan ekspresi yang berbeda, sehingga seseuatu yang tampak lucu bagi laki-laki menjadi sama sekali tidak lucu bagi perempuan.
Teori Kelompok yang Dibungkam merupakan teori yang menarik dari teori komunikasi kritis dan termasuk dalam konteks kultural yang membahas mengenai gender dan komunikasi. Teori ini memusatkan perhatiannya pada kelompok tertentu dalam masyarakat yang mengungkap struktur-struktur penting yang menyebabkan penindasan dan memberikan arah bagi perubahan yang positif.
Ketika teori feminis berkutat dengan pembagian konsepsi gendar atas maskulin dan feminin, sejumlah orang mempertanyakan manfaat dari dualisme ini. Meskipun pembedaan maskulin-feminin dapat berguna, namun terasa sangat menyederhanakan dan menciptakan konseptualisasi yang tidak secara tepat mencerminkan realitas. Pemberian label semacam itu pada kenyataannya justru mempertajam pembedaan antara laki-laki dan perempuan yang sebenarnya coba diatasi oleh kaum feminis. Linda Putnam menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:
• “persoalan reifikasi; penggunaan label feminis telah menimbukan efek pengakuan eksistensi perempuan tetapi sekaligus juga mengisolasi mereka”. Dan lagi, “usaha untuk menghapus perilaku pembedaan memiliki potensi untuk membebaskan kita dari klasifikasi peran berdasarkan jenis kelamin yang muncul dari dualisme.” Jawabannya menurut Putnam, adalah bukan dengan mengabaikan teori feminis atau idealisme feminis, tetapi dengan melihat pada proses komunikasi secara berbeda. Daripada sekadar menganggap bahwa gender adalah penyebab bagi efek-efek lainnya, kita harus mempelajari pula cara-cara dimana pola-pola komunikasi telah membawa pada pembedaan gender itu sendiri (Sendjaja, 2002: 9.25)

Tujuan dari teori
Teori ini bertujuan untuk mengubah sistem linguistik “buatan laki-laki”, seperti kamus feminis dan pelecehan seksual.
Aplikasi
Pada tahun 1992, the Journal of Applied Communication Research mempublikasikan 30 (tiga puluh) cerita dari pelajar dan profesional komunikasi yang secara seksual malu, memalukan, atau traumatis karena oknum dalam posisi kekuasaan akademik. Semuanya kecuali dua dari tigapuluh datang dari kaum perempuan. Sebagaimana Kramarae nyatakan, “pelecehan seksual merajalela tetapi tidak random.” Kisah anonimitas di bawah ini tipikal.
Dia sudah 50 tahun dan Saya 21 tahun. Dia adalah profesor utama di areaku. Saya sudah 1 tahun menjadi pelajar M.A. Posisinya aman/kokoh, sedangkan posisiku tidak jelas dan kontingen dukungannya. Dia memberikan nama; dan saya merasa bergantung. Dia mungkin tidak berpikir banyak tentang apa yang telah terjadi; Saya tidak pernah melupakannya.
Seperti sebagian besar pelajar pemula, Saya merasa tak pasti dengan diri sendiri dan kemampuanku, sehingga aku lapar penghargaan dan indikator intelektual yang baik…Kemudian, pada pagi November Saya menemukan sebuah catatan dalam mailboxku dari Profesor X, anggota fakultas senior di areaku, seseorang yang sangat penting bagiku. Dalam catatannya Profesor X mengundangku untuk datang ke kantornya pada sore hari untuk mendiskusikan sebuah paper yang telah saya tulis untuknya.
Percakapan akrab dengannya mempengaruhiku sehingga kita merencanakan untuk saling mengenal satu sama lain dan bekerja sama secara akrab. Saya menginginkan bekerja dengannya dan sepakat. Kami berdiri dan dia merangkul dan menciumku. Saya menarik diri ke belakang sambil terkejut. Saya benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi. Dia tersenyum dan mengatakan padaku bahwa menjadi “teman” dapat melakukan bukan untuk apa-apa tetapi untuk mempertinggi hubungan kerja kita. Saya tidak berkata apaupun, tetapi merasa sangat bingung…..Laki-laki ini adalah seorang anggota fakultas yang sangat dihormati dan dia lebih tahu tentang norma-norma hubungan fakultas dan pelajar. Sehingga saya mengira salah merasakan perilakunya yang tidak pantas, pasti salah memahami motifnya, melebih-lebihkan arti “menjadi teman.” Sehingga saya merencanakan untuk berbicara terbuka padanya.
Saya telah dirugikan dalam “pembicaraan terbuka” kami, karena saya didekatinya sebagai sebuah kesempatan untuk memperjelas perasaan yang digunakannya sebagai suatu kesempatan untuk menafsirkan ulang dan meredefinisi apa yang telah terjadi dengan cara yang sesuai dengan maksudnya. Saya katakan padanya Saya tidak merasa baik dengan “menjadi teman” dengannya. Dia menjawab bahwa Saya bereaksi berlebihan, dan selanjutnya didikan kota kecil selatan saya muncul….Saya katakan bahwa saya diperhatikan olehnya sehingga dia tidak objektif menilai pekerjaan saya, tetapi menghargainya karena dia ingin menjadi “teman” bagi saya; dia mengelit akan hal ini, dan menjelaskan bahwa dia menilai saya secara benar, tetapi bahwa menjadi “teman” adalah peningkatan minatnya dalam membantu saya secara profesional. Tidak ada yang saya katakan, dia telah merespon saya sehingga penegasan perasaan saya menjadi tidak tepat.
Teori Kelompok yang Dibungkam dapat menjelaskan kebingungan dan kekurangkuasaan dari perempuan ini. Kisahnya banyak menceritakan tentang memperjuangkan bahasa sebagaimana memperjuangkan tingkah laku seksual yang berlebihan. Selama profesor tersebut menegaskan tindakannya sebagai “menjadi teman”, pelajar perempuan tersebut merasa melalaikan dirinya sendiri. Dia telah dilengkapi dengan perangkat linguistik “pelecehan seksual,” dia akan mengesahkan perasaannya dan melabeli profesor tersebut sebagai tidak pantas dan ilegal.

Penilaian Kritis pada Teori Kelompok yang Dibungkam
1. Penganiayaan Perempuan yang berlebihan. Teori ini dikiritik karena terlalu menekankan pada masalah aniaya terhadap perempuan.
2. Ketidaktepatan politis. Teori ini bertujuan politis karena teori ini digunakan untuk kemajuan agenda politik dalam pemberian kuasa pada kalangan perempuan. Dan teoretisi kelompok yang dibungkam ini akan sepakat bahwa mereka melakukan agenda politik dengan melakukan perubahan konstruktif dalam masyarakat dengan mengurangi ketidakadilan antara perempuan dan laki-laki. Para teoretisi tersebut tidak melihat masalah dengan menghadirkan nilai dalam sebuah teori. Dalam opini mereka, nilai melekat pada semua teori, meskipun teori konvensional menyangkal nilai yang ada dalam pekerjaan mereka. Selanjutnya, ilmuwan kritis membantah, taori tentang kehidupan sosial harus didasarkan pada nilai dan harus berusaha memperbaiki masyarakat.
3. Tidak realistik. Kritik final terhadap teori kelompok yang dibungkam adalah bahwa hal itu utopia. Tidak unik bagi teori ini karena telah dilontarkan pada teori kritis secara umum (Blumler, 1983; Real, 1984). Klaim kritis menyatakan teori-teori kritis secara umum dan teori kleompok yang dibungkam sebagai baginnya, terlalu idealistis dalam meyakini bahwa perubahan yang mereka inginkan dapat terealisasi. Menurut beberapa orang yang was-was mengenai teori kritis, perubahan yang meluas tidak mungkin karena keberadaan ketidakadilan harus diakui dan diakomodasi. Barangkali hal itu utopia dalam mengkhayalkan membuat lagi bahasa termasuk ekspresi dan perspektif perempuan.(Wood, 2004: 272-273).

Daftar Pustaka
Griffin, EM. 2003. A First Look At Communication Theory. Fifth edition. America, New York: McGraw-Hill Companies, Inc.
Littlejohn, Stephen W. 1989. Theories of Human Communication. Third edition. Belmont, California: Wadsworth Publishing Company.
Miller, Katherine. 2002. Communication Theories: Perspective, Processes, and Contexts. USA: McGraw-Hill Companies.
Sendjaja, S. Djuarsa. 2002. Teori Komunikasi. Cetakan 1. Jakarta: Universitas Terbuka..
Wood, Julia T. 2004. Communication Theories in Action: An Introduction. Canada: n Wadsworth, Thomson Learning Inc.

KONSEP DASAR MEREK KORPORAT

Merek Korporat bukan sekadar nama, logo, atau tampilan visual perusahaan atau institusi. Lebih dari itu, merek korporat memancarkan nilai-nilai dasar (core values) perusahaan karena merupakan cara baru melihat organisasi dengan sejarahnya, filosofi, budaya, refutasi, strategi, dan orang-orang di dalamnya. Secara singkat, merek korporat mencerminkan ikatan antara perusahaan dengan konsumen, karyawan, investor, kalangan media, dan semua pihak terkait (stakeholders) untuk memupuk rasa saling percaya, hubungan yang lebih erat, dan pemahaman yang mendalam. Ada tiga atribut yang melekat pada merek korporat: (1) sifat tak berwujud (intangibility), (2) kompleksitas, dan (3) tanggung jawab sosial yang melekat. Produk bisa kita sentuh, lihat, rasakan, atau nikmati; tetapi merek korporat dengan segala sifat tak berwujudnya seperti sejarah, strategi, nilai-nilai, dan budaya yang dianut hanya bisa dihayati setelah memahaminya secara lebih dekat.

Kompleksitas merek korporat bertambah rumit dibandingkan dengan merek produk, terutama bila nama perusahaan sama dengan dengan nama produk yang beraneka ragam. Hal ini dikenal dengan istilah merek korporat monolitik. Misalnya, Yamaha sebagai perusahaan juga dipakai sebagai nama merek sepeda motor, piano, gitar, dan sebagainya. Atau juga Sony dengan beragam produk elektronik seperti pesawat televisi, kamera, perangkat audio, dan sebagainya.

Sedikitnya ada tiga keuntungan bila kita memilih merek korporat monolitik, yaitu: memancarkan citra dan kredibilitas yang kuat, ekonomis dalam komunikasi karena dipayungi merek korporat untuk kampanye masing-masing produk yang dimiliki perusahaan, dan memudahkan komunikasi pemasaran secara global. Namun ada juga kelemahannya, yakni lebih berisiko karena serangan rumor atau berita negatif terhadap salah satu produk saja bisa mencemari produk lainnya. Misalnya, bila citra pesawat televisi merek Sony terpuruk, maka semua produk Sony terkena getahnya. Selain itu, bila salah satu divisi perusahaan diakuisisi, maka mereklah yang dibeli. Nasib divisi lain yang tidak terbeli akan akan menghadapi masalah terkait dengan hak atas penggunaan merek.

Aspek ketiga dari merek korporat adalah tanggung jawab sosial perusahaan yang tidak hanya berhubungan dengan konsumen dan karyawan, tetapi juga masyarakat sekitar kantor atau pabrik, pemerintah, hingga masyarakat luas yang perlu uluran tangan. Keharuman citra perusahaan karena program perduli yang dijalankannya secara otomatis akan mengangkat reputasi merek korporat.

MODEL KOMUNIKASI MEREK KORPORAT

Model menyuguhkan model merek korporat yang dikembangkan dari model R. Abratt (1989)mengenai proses corporate image management. Pengembangannya dilakukan oleh Nicholas Ind (1997), penulis buku The Corporate Brand, yang mengulas beberapa hal menarik seperti model komunikasi korporat, membangun citra merek korporat, kiat komunikasi internal untuk memasarkan merek korporat, dan lain-lain.

Model Komunikasi Merek Korporat dari Nicholas Ind sendiri terbagi menjadi empat elemen, yakni identitas korporat, strategi komunikasi, pandangan karyawan mengenai identitas korporat, serta keberadaan produk dan jasa. Keempat elemen itu akan memancarkan citra korporat kepada khalayak atau pihak-pihak terkait (lihat Skema).

MODEL KOMUNIKASI MEREK KORPORAT

IDENTITAS KOMUNIKASI PEMASARAN CITRA

P KHALAYAK

E (PIHAK TERKAIT)

N

G Konsumen

H Pemerintah

U Masyrakat

B Sekitar

U Finansial

N Pemasok

G Pembeli

Kalangan Media

C Kelompok

I Kepentingan

T

R

A

Strategi Komunikasi Pemasaran

MISI KORPORAT

FILOSOFI KORPORAT

NILAI-NILAIDASAR

BUDAYA KORPORAT

Produk dan Jasa

Pandangan karyawan terhadap Identitas

Umpan Blk Pemasaran

Internal

Komunikasi

Personal

Citra korporat ada di dalam benak khalayak karena merupakan akumulasi pesan yang terrekam di alam pikiran mereka. Citra itu terbentuk tidak hanya karena pengalaman menggunakan produk, tetapi juga karena interaksi dengan karyawan perusahaan, biro iklan atau konsultan yang berada di belakang layar perusahaan. Citra ini idelanya mencerminkan wajah dan memancarkan budaya perusahaan, sejalan dengan strategi persuhaan, jelas, dan konsisten.

Model penyempurnaan dari Nicholas Ind memeiliki kelebihan antara lain: mengaitkan komunikasi pemasaran dengan sumber daya manusia dan produk, melihat segala sesuatu dari kacamata khalayak (publik terkait), mencermati pengaruh budaya perusahaan, dan menghubungkan posisi merek korporat dengan strategi perusahaan. Namun yang penting lagi adalah terpadunya fungsi pemasaran dan komunikasi untuk satu tujuan, yaitu memperkenalkan identitas korporat dan membangun citra merek korporat kepada publik internal dan eksternal perusahaan.

Satu hal yang menarik dari model Nicholas Ind ini adalah penempatan karyawan sebagai titik sentral. Karyawan adalah merek korporat (people are the corporate brand), karena mereka berinteraksi dengan khalayak (termasuk relasi dan konsumen), membuat produk, dan merancang strategi komunikasi pemasaran. Karyawan juga tidak bisa dibohongi iklan, karena tahu isi perut perusahaan tempat mereka bekerja. Citra perusahaan juga ditentukan oleh persepsi khalayak terhadap pimpinan dan karyawan perusahaan. Banyak perusahaan yang menyandarkan citranya pada kualitas sumber daya manusia dan pelayanan mereka. Misalnya, The Body Shop, yang dikenal dengan produk ramah lingkungan melambungkan citranya bukan karena iklan, melainkan karena mutu produk, konsistensi komunikasi di media gerai (outlet), dan pelayanan yang prima.

PRINSIP STRATEGI KOMUNIKASI MEREK KORPORAT

Bagaimana strategi komunikasi merek korporat baik untuk kalangan internal maupun eksternal? Ada tiga prinsip yang perlu dicamkan. Pertama, konsistensi dan kesinambungan jangka panjang. Kedua, keunikan (distinctive) yang disertai kreativitas kampanye. Ketiga, pesan yang secara terfokus menyampaikan ide (single-minded). Prinsip ini diterapkan oleh sejumlah merek korporat global, seperti Nike, Apple, Microsoft, Sony. McDonald’s, IBM, Coca-Cola, dan Pepsi-Cola, bahkan oleh beberapa perusahaan yang mulai menmgukuhkan posisinya di Indonesia, seperti Citibank, Amex, dan FedEx.

CITRA DAN REPUTASI KORPORAT

Reputasi Korporat (corporate reputation) adalah kumpulan citra yang terakumulasi di benak khalayak atau publik. Reputasi korporat mencerminkan persepsi publik mengenai tindakan-tindakan perusahaan yang telah berlalu dan prospek perusahaan di masa mendatang dibandingkan dengan pesaing utamanya. Jadi, reputasi bisa baik atau buruk, besar atau kecil, kuat atau lemah.

Membangun reputasi memang harus dilakukan secara berlapis, mulai dari citra bangsa, citra sektor industri/usaha, citra korporat, hingga citra merek/produk. Namun yang tidak kalh penting adalah citra diri (personal image) para pelaku dunia usaha, mulai dari para pemilik hingga profesional yang menjalankan bisnis sehari-hari.

Pada tataran mikro, untuk memulihkan reputasi perusahaan, kita perlu menelusuri akar persoalannya dan memilah-milah aspek yang dibenahi. Charles J. Fombrun (1996), penulis buku Reputation: Realizing Value from the Corporate Image, mengemukakan beberapa ide menarik yang bisa dipakai sebagai kerangka pemulihan reputasi persusahaan (korporat). Fombrun menguraikan tiga titik penting, yaitu identitas korporat, citra korporat, dan reputasi korporat (lihat gambar).

DARI IDENTITAS MENUJU REPUTASI

REPUTASI KORPORAT

Nama Tampilan-diri

Citra di Mata Konsumen

Citra di Mata Masyarajat

Citra di Mata Investor

Citra di Mata Karyawan

REPUTASI KORPORAT

Reputasi dimulai dari identitas korporat sebagai titik pertama yang tercermin melalui nama perusahaan (logo) dan tampilan lain, misalnya dari laporan tahunan, brosur, alat transportasi, kemasan produk, interior kantor, seragam karyawan, iklan, pemberitaan media, serta materi tertulis dan audio-visual lainnya. Namun, identitas korporat juga berupa dapat berupa nonfisik, seperti nilai-nilai dan filosofi yang dianut perusahaan, keramahan pelayanan, gaya kerja, dan komunikasi, baik internal perusahaan maupun dalam interaksi dengan pihak luar.

Identitas korporat tersebut memancarkan citra kepada khalayak atau pihak-pihak terkait (konstituen/stakeholders) antara lain seperti citra di mata konsumen, masyarakat sekitar, investor, dan karyawan sendiri sehingga jadilah citra korporat.

EMPAT SISI REPUTASI

Dari reputasi yang terbentuk, menurut Fombrun, ada empat sisi korporat yang perlu ditangani secara cermat, yaitu credibility (kredibilitas di mata investor), trustworthiness (karyawan terpercaya), reliability (keterandalan di mata konsumen), dan responsibility (tanggung jawab sosial kepada masyarakat) dengan rincian sebagai berikut:

EMPAT SISI REPUTASI KORPORAT

Khalayak

Karakteristik

Citra

Investor

1. Memperlihatkan profitabilitas

2. Mempertahankan stabilitas

3. Prospek pertumbuhan yang baik

Kredibilitas

(Credibility)

Karyawan

4. Memunculkan kepercayaan

5.Pemberdayaan karyawan

6. Rasa memiliki dan kebanggaan tinggi

Terpercaya

(Trustworthiness)

Konsumen

7. Menjaga mutu produk atau jasa

8. Menjamin pelayanan prima

Keterandalan

(Reliability)

Masyarakat Sekitar

9. Membantu pengembangan masyarakat sekitar

10. Perusahaan ramah lingkungan

Tanggung jawab sosial (Responsibility)

Oleh: dankfsugiana | 30 ,Desember, 2008

KONSEP DASAR DAN TEKNIK RETORIKA *)

Oleh: Dadang Sugiana

*) Bahan Tulisan ini sebagian besar bersumber pada Buku Retorika Modern:  Pendekatan Praktis, Tulisan Jalaluddin Rakhmat, Penerbit  Remaja Rosdakarya, Bandung, 1994.


PENDAHULUAN

Beberapa tahun yang lalu, siapa di antara kita yang tidak mengenal K.H. Zainudin M.Z? Siapa di antara kita yang tidak kenal dengan Aa Gym? Atau siapa di antara kita yang tidak kenal Bung Karno? Semua orang pasti mengenalnya. Mengapa mereka begitu dikenal luas oleh banyak orang? Apa kelebihan mereka dibanding orang-orang lainnya? Semuanya sepakat, kita mengenal ketiga tokoh itu karena mereka sangat pandai berbicara, pandai berdakwah, pandai berpidato.

Memang benar, orang yang tadinya bukan siapa-siapa mendadak bisa berubah menjadi orang penting dan terkenal hanya karena ia memiliki kemampuan berbicara yang menarik dan meyakinkan orang lain. Kemampuan berbicara diyakini dapat meningkatkan kualitas eksistensi dan aktualisasi seseorang di tengah-tengah lingkungannya. Kemampuan orang dalam berbicara dapat menjadikan orang itu memiliki daya tarik dan pesona luar biasa bagi orang lain, sehingga ia menjadi idola yang didambakan oleh banyak orang.

Secara alamiah, setiap orang mampu berbicara. Berbicara sudah merupakan aktivitas rutin kita sehari-hari. Hasil penelitian ilmiah membuktikan, bahwa sebagian besar waktu bangun kita digunakan untuk berbicara dengan orang lain. Nyaris tidak ada seorang pun di dunia ini yang tahan untuk tidak berbicara. Kita boleh jadi tahan untuk tidak makan dan minum selama tiga hari berturut-turut (bahkan mungkin lebih), tetapi siapa yang tahan berpuasa bicara selama itu?

Namun demikian, sebagaimana telah diungkapkan tadi, berbicara yang akan dapat meningkatkan kualitas eksistensi (keberadaan) kita di tengah-tengah orang lain, bukanlah sekadar berbicara, tetapi berbicara yang menarik (atraktif), bernilai informasi (informatif), menghibur (rekreatif), dan berpengaruh (persuasif). Dengan kata lain, kita mesti berbicara berdasarkan seni berbicara yang dikenal dengan istilah retorika.

Retorika adalah seni berkomunikasi secara lisan yang dilakukan oleh seseorang kepada sejumlah orang secara langsung bertatap muka. Oleh karena itu, istilah retorika seringkali disamakan dengan istilah pidato. Pada kesempatan ini, kita akan sama-sama membicarakan dan berlatih bagaimana kita harus mempersiapkan dan melakukan pidato, agar pidato kita itu memiliki daya tarik, informatif, rekreatif, dan persuasif.

JENIS-JENIS PIDATO

Berdasarkan pada ada tidaknya persiapan, sesuai dengan cara yang dilakukan waktu persiapan, kita dapat membagi jenis pidato kedalam empat macam, yaitu: impromtu, manuskrip, memoriter, dan ekstempore.

Pidato impromtu adalah pidato yang dilakukan secara tiba-tiba, spontan, tanpa persiapan sebelumnya. Apabila Anda menghadiri sebuah acara pertemuan, tiba-tiba Anda dipanggil untuk menampaikan pidato, maka pidato yang Anda lakukan disebut impromtu.

Bagi juru pidato yang berpengalaman, impromtu memiliki beberapa keuntungan: (1) Impromtu lebih dapat mengungkapkan perasaan pembicara yang sebenarnya, karena pembicara tidak memikirkan lebih dulu pendapat yang disampaikannya, (2) Gagasan dan pendapatnya dating secara spontan, sehingga tampak segar dan hidup, dan (3) Impromtu memungkinkan Anda terus berpikir.

Tetapi bagi juru pidato yang masih “hijau”, belum berpengalaman, keuntungan-keuntungan di atas tidak akan tampak, bahkan dapat mendatangkan kerugian sebagai berikut: (1) Impromtu dapat menimbulkan kesimpulan yang mentah, karena dasar pengetahuan yang tidak memadai, (2) Impromtu mengakibatkan penyampaian yang tersendat-sendat dan tidak lancar, (3) gagasan yang disampaikan bisa “acak-acakan” dan ngawur, dan (4) Karena tiadanya persiapan, kemungkinan “demam panggung” besar sekali. Jadi, bagi yang belum berpengalaman, impromtu sebaiknya dihindari daripada Anda tampak “bodoh” di hadapan orang lain.

Pidato Manuskrip adalah pidato dengan naskah. Juru pidato membacakan naskah pidato dari awal sampai akhir. Di sini lebih tepat jika kita menyebutnya”membacakan pidato” dan bukan “menyampaikan pidato”. Pidato manuskrip perlu dilakukan jika isi yang disampaikan tidak boleh ada kesalahan. Misalnya, ketika Anda diminta untuk melaporkan keadaan keuangan DKM, berapa pemasukan, dari mana saja sumbernya, dan berapa pengeluaran serta untuk apa uang dikeluarkan, Anda perlu menuliskannya dalam bentuk naskah dan baru kemudian membacakannya.

Pidato manuskrip tentu saja bukan jenis pidato yang baik walaupun memiliki keuntungan-keuntungan sebagai berikut: (1) Kata-kata dapat dipilih sebaik-baiknya sehingga dapat menyampaikan arti yang tepat dan pernyataan yang gamblang, (2) Pernyataan dapat dihemat, karena manuskrip dapat disusun kembali, (3) Kefasihan bicara dapat dicapai karena kata-kata sudah disiapkan, (4) Hal-hal yang ngawur atau menyimpang dapat dihindari, dan (5) Manuskrip dapat diterbitkan atau diperbanyak.

Namun demikian, ditinjau dari proses komunikasi, pidato manuskrip kerugiannya cukup berat: (1) Komunikasi pendengar akan akan berkurang karena pembicara tidak berbicara langsung kepada mereka, (2) Pembicara tidak dapat melihat pendengar dengan baik karena ia lebih berkonsentrasi pada teks pidato, sehingga akan kehilangan gerak dan bersifat kaku, (3) Umpan balik dari pendengar tidak dapat mengubah, memperpendek atau memperpanjang pesan, dan (4) Pembuatannya lebih lama.

Pidato Memoriter adalah pidato yang ditulis dalam bentuk naskah kemudian dihapalkan kata demi kata, seperti seorang siswa madrasah menyampaikan nasihat pada acara imtihan. Pada pidato jenis ini, yang penting Anda memiliki kemampuan menghapalkan teks pidato dan mengingat kata-kata yang ada di dalamnya dengan baik. Keuntungannya (jika hapal), pidato Anda akan lancar, tetapi kerugiannya Anda akan berpidato secara datar dan monoton, sehingga tidak akan mampu menarik perhatian hadirin.

Pidato Ekstempore adalah pidato yang paling baik dan paling sering digunakan oleh juru pidato yang berpengalaman dan mahir. Dalam menyampaikan pidato jenis ini, juru pidato hanya menyiapkan garis-garis besar (out-line) dan pokok-pokok bahasan penunjang (supporting points) saja. Tetapi, pembicara tidak berusaha mengingat atau menghapalkannya kata demi kata. Out-line hanya merupakan pedoman untuk mengatur gagasan yang ada dalam pikiran kita. Keuntungan pidato ekstempore ialah komunikasi pendengar dan pembicara lebih baik karena pembicara berbicara langsung kepada pendengar atau khalayaknya, pesan dapat fleksibel untuk diubah sesuai dengan kebutuhan dan penyajiannya lebih spontan. Pidato jenis ini memerlukan latihan yang intensif bagi pelakunya.

Jenis-jenis pidato juga dapat kita identifikasi berdasarkan tujuan pokok pidato yang kita sampaikan. Berdasarkan tujuannya, kita mengenal jenis-jenis pidato: pidato informatif, pidato persuasif, dan pidato rekreatif. Pidato informatif adalah pidato yang tujuan utamanya untuk menyampaikan informasi agar orang menjadi tahu tentang sesuatu. Pidato pesuasif adalah pidato yang tujuan utamanya membujuk atau mempengaruhi orang lain agar mau menerima ajakan kita secara sukarela bukan sukar rela. Pidato rekreatif adalah pidato yang tujuan utamanya adalah menyenangkan atau menghibur orang lain. Namun demikian, perlu kita sadari bahwa dalam kenyataannya ketiga jenis pidato ini tidak dapat berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi satu sama lain. Perbedaan di antara ketiganya semata-mata hanya terletak pada titik berat (emphasis) tujuan pokok pidato kita.

TAHAP PERSIAPAN PIDATO

Sebelum berpidato, berdakwah, atau berceramah, kita harus mengetahui lebih dulu apa yang akan kita sampaikan dan tingkah laku apa yang diharapkan dari khalayak kita; bagaimana kita akan mengembangkan topik bahasan. Dengan demikian, dalam tahap persiapan pidato, ada dua hal yang harus kita lakukan, yaitu: (1) Memilih Topik dan Tujuan Pidato dan (2) Mengembangkan Topik Bahasan.

Memilih Topik dan Tujuan Pidato

Seringkali kita menjadi bingung ketika harus mencari topik yang baik, seakan-akan dunia ini kekeringan bahan pembicaraan, seakan-akan kita tidak memiliki keahlian apa-apa. Jangan bingung, karena sebenarnya setiap orang memiliki keahlian masing-masing, hanya kita seringkali tidak menyadarinya. Mang Endang mungkin tidak dapat berbicara tentang hukum waris dengan baik, tetapi Mang Endang dapat dengan lancar berbicara tentang cara memperbaiki mobil yang rusak. Pak Haji Holis mungkin akan sangat lancar berbicara tentang hukum waris, tetapi hampir pasti beliau akan gagap jika diminta menjelaskan bagaimana caranya memperbaiki mobil yang mogok. Inilah yang disebut keahlian spesifik. Setiap orang punya potensi untuk ahli di bidangnya masing-masing. Hal yang akan menjadi masalah bagi seseorang ketika harus berpidato adalah jika orang itu memaksakan diri berbicara tentang persoalan yang tidak dikuasainya, hal yang tidak dipahaminya (Numawi kitu, ulah maksakeun anjeun nyarios anu urang nyalira henteu ngartos kana naon anu dicarioskeun!).

Untuk membantu Anda menemukan topik bahasan dalam pidato, Profesor Wayne N. Thompson menyusun sitematika sumber topik sebagai berikut:

1. Pengalaman Pribadi:

a. Perjalanan

b. Tempat yang pernah dikunjungi

c. Wawancara dengan tokoh

d. Kejadian luar biasa

e. Peristiwa lucu

f. Kelakukan atau adat yang aneh

2. Hobby dan Keterampilan:

a. Cara melakukan sesuatu

b. Cara bekerja sesuatu

c. Peraturan dan tata cara

3. Pengalaman Pekerjaan dan Profesi

a. Pekerjaan tambahan

b. Profesi Keluarga

4. Masalah Abadi:

a. Agama

b. Pendidikan

c. Masalah kemasyarakatan

d. Persoalan pribadi

5. Kejadian Khusus:

a. Perayaan atau peringatan khusus (Misalnya, Maulud Nabi)

b. Peristiwa yang erat kaitannya dengan peringatan

6. Minat Khalayak:

a. Pekerjaan

b. Rumah tangga

c. Kesehatan dan penampilan

d. Tambahan ilmu

Kriteria Topik yang Baik

Untuk menentukan topik yang baik, kita dapat menggunakan ukuran-ukuran sebagai berikut:

1. Topik harus sesuai dengan latar belakang pengetahuan Anda

Topik yang paling baik adalah topik yang memberikan kemungkinan Anda lebih tahu daripada khalayak, Anda lebih ahli dibandingkan dengan kebanyakan pendengar. Jika Anda merupakan orang yang paling tahu tentang tata cara sholat yang baik dibandingkan dengan orang lain, maka berpidatolah dengan tema atau topik itu; sebaliknya jika Anda tidak begitu paham tentang tata cara sholat yang baik, jangan pernah Anda memaksakan diri untuk berbicara tentang masalah itu.

2. Topik harus menarik minat Anda

Topik yang enak dibicarakan tentu saja adalah topik yang paling Anda senangi atau topik yang paling menyentuh emosi Anda. Anda akan dapat berbicara lancar tentang kaitan berpuasa dengan ketentraman hati, sebab Anda pernah merasa tidak tenang ketika pernah tidak berpuasa secara sengaja di bulan ramadhan.

3. Topik harus menarik minat pendengar

Dalam berdakwah atau berpidato, kita berbicara untuk orang lain, bukan untuk diri kita sendiri. Jika tidak ingin ditinggalkan pendengar atau diacuhkan oleh hadirin, Anda harus berbicara tentang sesuatu yang diminati mereka. Walaupun hal-hal yang menarik perhatian itu sangat tergantung pada situasi dan latar belakang khalayak/hadirin, namun hal-hal yang bersifat baru dan indah, hal-hal yang menyentuh rasa kemanusiaan, petualangan, konflik, ketegangan, ketidakpastian, hal yang berkaitan dengan keluarga, humor, rahasia, atau hal-hal yang memiliki manfaat nyata bagi hadirin adalah topik-topik yang akan menarik perhatian.

4. Topik harus sesuai dengan pengetahuan pendengar

Betapapun baiknya topik, jika tidak dapat dicerna oleh khalayak, topik itu bukan saja tidak menarik tetapi bahkan akan membingungkan mereka. Oleh karena itu, sebelum Anda menentukan topik dakwah, ketahuilah terlebih dahulu bagaimana rata-rata tingkat pengetahuan pendengar yang menjadi khalayak sasaran pidato Anda. Gunakanlah bahasa, gaya bahasa, dan istilah-istilah yang dimengerti oleh hadirin, bukan istilah-istilah yang hanya dipahami oleh Anda (meskipun istilah itu keren sekali).

5. Topik harus jelas ruang lingkup dan pembatasannya

Topik yang baik tidak boleh terlalu luas, sehingga setiap bagian hanya memperoleh ulasan sekilas saja, atau “ngawur”. Misalnya, Anda memilih topik Agama, tetapi kita tahu agama itu luas sekali. Agama bisa menyangkut moralitas, sistem kepercayaan, cara beribadat, dan lain-lain. Agar topik kita jelas, ambilah misalnya tentang cara beribadat, lebih jelas lagi ambilah topik tentang sholat yang khusu’, dan seterusnya.

6. Topik harus sesuai dengan waktu dan situasi

Maksudnya, kita harus memilih topik pidato atau topik dakwah yang sesuai dengan waktu yang tersedia dan situasi yang terjadi. Jika Anda diberikan waktu untuk berbicara selama 10 menit, janganlah Anda memilih topik yang terlalu luas yang tidak mungkin dijelaskan dalam waktu 10 menit. Jika Anda harus berbicara di hadapan para santri yang rata-rata usianya belum akil baligh, janganlah Anda memilih topik dakwah tentang tata cara hubungan suami-istri, bicaralah tentang kebersihan sekolah, misalnya.

7. Topik harus dapat ditunjang dengan bahan yang lain

Jika Anda memilih topik tentang Hadits Shahih dan Dhoif, lengkapi bahan pembicaraan Anda dengan sumber-sumber rujukan (bisa berupa: kitab, buku, atau perkataan ulama) yang sesuai.

Merumuskan Judul Pidato

Hal yang erat kaitannya dengan topik adalah judul. Bila topik adalah pokok bahasan yang akan diulas, maka judul adalah nama yang diberikan untuk pokok bahasan itu. Seringkali judul telah dikemukakan lebih dahulu kepada khalayak, karena itu judul perlu dirumuskan terlebih dahulu. Judul yang baik harus memenuhi tiga syarat, yaitu: relevan, propokatif, dan singkat. Relevan artinya ada hubungannya dengan pokok-pokok bahasan; Propokatif artinya dapat menimbulkan hasrat ingin tahu dan antusiasme pendengar; Singkat berarti mudah ditangkap maksudnya, pendek kalimatnya, dan mudah diingat.

Menentukan Tujuan Pidato

Ada dua macam tujuan pidato, yakni: tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum pidato biasanya dirumuskan dalam tiga hal: memberitahukan (informatif), mempengaruhi (persuasif), dan menghibur (rekreatif).

Tujuan khusus ialah tujuan yang dapat dijabarkan dari tujuan umum. Tujuan khusus bersifat kongkret dan sebaiknya dapat diukur tingkat pencapaiannya atau dapat dibuktikan segera.

Hubungan antara topik judul, tujuan umum, dan tujuan khusus dapat dilihat pada contoh-contoh di bawah ini:

1. Topik : Faedah memiliki sifat pemaaf

Judul : Pemaaf Sumber Kebahagiaan

Tujuan Umum : Informatif (memberi tahu)

Tujuan Khusus: Pendengar mengetahui bahwa:

a. Sifat dendam menimbulkan gangguan jasmani dan rohani

b. Sifat pemaaf menimbulkan ketentraman jiwa dan kesehatan

2. Topik : Keuntungan mengikuti sholat berjamaah

Judul : Sholat berjamaah adalah keutamaan sholat

Tujuan Umum : Mempengaruhi (Persuasif)

Tujuan Khusus :

a. Pendengar memperoleh keyakinan tetantang keutamaan sholat berjamaah

b. Pendengar berbondong-bondong sholat berjamaah di masjid

3. Topik : Kisah-kisah lucu zaman Nabi dan Khalifah

Judul : Yang benar menang, yang salah kalah

Tujuan Umum : Menghibur (rekreatif)

Tujuan Khusus :

Pendengar dapat menikmati kisah lucu Ratu Balqis dikerjai oleh Nabi Sulaiman, Siti Zulaikha menggoda Nabi Yusuf, atau Abu Nawas menjawab teka-teki raja, dan lain-lain.

Perlu diingat, bahwa dalam kenyataannya tidak ada pidato yang berdiri sendiri. Sebuah pidato atau topik pidato bisa berisi ketiga-tiganya; artinya, dalam pidato atau dakwah bisa ada unsur informatif, sekaligus persuasif dan rekreatif. Dengan kata lain, dalam sebuah kegiatan berdakwah, bisa ada unsur memberitahu, mempengaruhi (mengajak), dan juga menghibur. Coba Anda ingat kembali, bagaimana K.H. Zainudin M.Z. berdakwah, di samping memberi ceramah, beliau pun menyeru dan ngabodor. Dakwah yang baik adalah yang mengandung ketiga unsur tujuan tersebut.

Teknik Mengembangkan Pokok Bahasan

Bila topik yang baik sudah ditemukan, kita memerlukan keterangan untuk menunjang topik tersebut. Keterangan penunjang (supporting points) dipergunakan untuk memperjelas uraian, memperkuat kesan, menambah daya tarik, dan mempermudah pengertian.

Ada enam macam teknik pengembangan bahasan dalam berpidato:

1. Penjelasan

2. Contoh

3. Analogi

4. Testimoni

5. Statistik

6. Perulangan

Penjelasan. Penjelasan adalah memberikan keterangan terhadap istilah atau kata-kata yang disampaikan. Memberikan penjelasan dapat dilakukan dengan cara memberikan pengertian atau definisi. Misalnya, istilah Iman kepada Allah Anda jelaskan dengan kalimat: “Iman adalah rasa percaya dan yakin akan kebenaran adanya Allah di dalam hati dan dibuktikan dengan perbuatan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.”

Contoh. Contoh adalah upaya untuk mengkongkretkan gagasan, sehingga lebih mudah untuk dipahami. Contoh dalam pidato dapat berupa cerita yang rinci yang disebut ilustrasi. Untuk memberikan contoh tetantang kesabaran, misalnya Anda menggunakan cerita tentang kesabaran Nabi Ayub dalam menghadapi cobaan Allah melalui penyakit kulit yang dideritanya.

Analogi. Analogi adalah perbandingan antara dua hal atau lebih untuk menunjukkan persamaan atau perbedaannya. Ada dua macam analogi: analogi harfiyah dan analogi kiasan.

Analogi harfiyah (literal analogy) adalah perbandingan di antara objek-objek dari kelompok yang sama, karena adanya persamaan dalam beberapa aspek tertentu. Misalnya, membandingkan manusia dengan monyet secara biologis. Analogi kiasan adalah perbandingan di antara objek-objek di antara kelompok yang tidak sama. Misalnya, membandingkan ke-Esaan Allah dengan menggunakan ayat Al-Quran dan Injil.

Testimoni. Testimoni ialah pernyataan ahli yang kita kutip untuk menunjang pembicaraan kita. Pendapat ahli itu dapat kita ambil dari pidato seorang ahli, tulisan di surat kabar, acara televisi, dan lain-lain, termasuk kutipan dari kitab suci, hadits, dan sejenisnya. Misalnya, untuk memperkuat perkataan Anda tentang betapa mulianya akhlak Nabi Muhammad SAW, Anda mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah atau Bukhori-Muslim.

Statistik. Statistik adalah angka-angka yang dipergunakan untuk menunjukkan perbandingan kasus dalam jenis tertentu. Statistik diambil untuk menimbulkan kesan yang kuat, memperjelas, dan meyakinkan. Misalnya, untuk melukiskan betapa bokbroknya akhlak generasi muda di Indonesia, Anda menggunakan kalimat, “Wahai saudara-saudara, menurut hasil penelitian, saat ini lebih dari 65 persen remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seks sebelum nikah…

Perulangan. Perulangan adalah menyebutkan kembali gagasan yang sama dengan kata-kata yang berbeda. Perulangan berfungsi untuk menegaskan dan mengingatkan kembali.

Dengan menggunakan keenam teknik pengembangan pokok bahasan tersebut (secara berganti-ganti), maka pidato atau dakwah yang Anda sampaikan insya Allah tidak akan membosankan pendengar, tapi sebaliknya dakwah Anda akan tampak penuh variasi dan tidak membosankan untuk didengar.

TAHAP PENYUSUNAN PIDATO

Seringkali kita mendengar seseorang yang berpidato panjang tanpa memperoleh apa-apa daripadanya selain kelelahan dan kebosanan. Hal ini biasanya disebabkan pembicara mempunyai bahan yang banyak tetapi tidak mampu mengorganisasikannya. Pidato yang tidak teratur, bukan hanya menjengkelkan pendengarnya, tetapi juga akan membingungkan pembicaranya itu sendiri. Ibarat pakaian yang harganya sangat mahal, pasti akan membuat orang yang melihatnya tertawa sisnis jika dipakai secara acak-acakan. Herbert Spencer pernah berkata, “Kalau pengetahuan orang itu tidak teratur, maka makin banyak pengetahuan yang dimilikinya, makin besar pula kekacauan pikirannya.”

Pada pidato, keteraturan merangkai kata-kata akan sangat menentukan daya tarik pidato itu sendiri. Bila tentara bermain-main dengan peluru, maka orator (jago pidato) bermain dengan kata-kata. Bagaimana kata-kata itu harus kita mainkan dalam pidato? Kita akan membahasnya secara teknis.

Prinsip-prinsip Komposisi Pidato

Banyak cara menyusun pesan pidato, tetapi semuanya harus didasari dengan tiga prinsip komposisi. Prinsip-prinsip ini mempengaruhi seluruh organisasi pesan. Raymond S. Ross berkata, “These three great rhetorical principleshave a profound bearing upon how we should organize messages.” Ketiga prinsip itu adalah: kesatuan (unity), pertautan (coherence), dan titik berat (emphasis).

Kesatuan (unity)

Komposisi yang baik harus merupakan kesatuan yang utuh, yang meliputi kesatuan dalam isi, tujuan, dan sifat (mood). Dalam isi, harus ada gagasan tunggal yang mendominasi seluruh uraian, yang menentukan dalam pemilihan bahan-bahan penunjang. Bila tema dakwah kita adalah “Pembuktian Adanya Tuhan Secara Aqliyah”, maka kita tidak membicarakan sifat-sifat Tuhan, macam-macam Tuhan, atau dalil-dalil naqli tentang adanya Tuhan. Di sini kita mungkin hanya membicarakan argumentasi logika dan moral tentang keberadaan Tuhan dihubungkan dengan mahluk ciptaan-Nya; setiap benda ciptaan dihubungkan dengan yang menciptakannya; ada ciptaan pasti ada pencipta.

Komposisi juga harus mempunyai satu macam tujuan. Satu tujuan di antara yang tiga -memberitahukan, mempengaruhi, dan menghibur- harus dipilih. Dalam pidato mempengaruhi (persuasif) boleh saja kita menyelipkan cerita-cerita lucu, sepanjang cerita lucu itu menambah daya persuasi. Bila cerita lucu itu tidak ada hubungannya dengan persuasi, betapa pun menariknya ia harus kita buang. Dalam pidato informatif, humor dipergunakan dengan pertimbangan dapat memperjelas uraian.

Kesatuan juga harus tampak dalam sifat pembicaraan (mood). Sifat pembicaraan mungkin serius, informal, formal, anggun, atau bermain-main. Kalau Anda memilih sifat informal, maka suasana formalitas harus mendominasi seluruh uraian. Ini menentukan pemilihan bahan, gaya bahasa, atau pemilihan kata-kata. Misalnya, dalam suasana informal gaya pidato seperti bercakap-cakap (conversational) dan akrab (intimate) lebih tepat untuk digunakan dibanding gaya pidato ceramah.

Untuk pempertahankan kesatuan dalam pidato, bukan saja diperlukan ketajaman pemikiran, tetapi juga kemauan untuk membuang hal-hal yang mubazir. Kurangnya kesatuan akan menyebankan pendengar menilai pidato kita sebagai pidato yang “ngawur” bertele-tele, tidak jelas apa yang dibicarakan, “meloncat-loncat”.

Pertautan (coherence)

Pertautan menunjukkan urutan bagian uraian yang berkaitan satu sama lain. Pertautan menyebabkan perpindahan dari pokok yang satu kepada pokok yang lainnya berjalan lancar. Sebaliknya, hilangnya pertautan menimbulkan gagasan yang tersendat-sendat atau pendengar tidak akan mampu menarik gagasan pokok dari seluruh pembicaraan. Ini biasanya disebabkan perencanaan yang tidak memadai, pemikiran yang ceroboh, dan penggunaan kata-kata yang jelek.

Untuk memelihara pertautan dapat dipergunakan tiga cara: ungkapan penyambung (connective phrases), pararelisme, dan gema (echo). Ungkapan penyambung adalah sebuah kata atau lebih yang digunakan untuk merangkaikan bagian-bagian. Contoh-contoh ungkapan penyambung: karena itu, walaupun, jadi, selain itu, sebaliknya, misalnya, sebagai contoh, dengan perkataan lain, sebagai ilustrasi, bukan saja, … dan sebagainya.

Paralelisme ialah mensejajarkan struktur kalimat yang sejenis dengan ungkapan yang sama untuk setiap pokok pembicaraan. Misalnya, “Ulama sebagai Pemuka Pendapat memiliki empat ciri: Ia mengetahui lebih banyak, ia berpendidikan lebih tinggi, ia mempunyai status sosial yang lebih terhormat, dan ia lebih sering bepergian ke luar sistem sosial dibandingkan dengan anggota masyarakat yang lain.”

Gema (echo) berarti kata atau gagasan dalam kalimat terdahulu diulang kembali pada kalimat baru. Pada contoh di bawah ini, yang dicetak miring adalah “gema”.

Keempat ciri ulama di atas sangat menentukan tingkat partisipasinya dalam mengemukakan pendapat. Yang disebut terakhir, yaitu sering bepergian ke luar sistem sosial, sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan ulama dalam menyerap ide-ide pembaruan.

Gema dapat berupa persamaan kata (sinonim), perulangan kata, kata ganti seperti itu, itu, hal tersebut, ia, mereka, atau istilah lain yang menggantikan kata-kata yang terdahulu.

Titik Berat (emphasis)

Bila kesatuan dan pertautan membantu pendengar untuk mengikuti dengan mudah jalannya pembicaraan, titik berat menunjukkan mereka pada bagian-bagian penting yang patut diperhatikan. Hal-hal yang harus dititikberatkan bergantung pada isis komposisi pidato, tetapipokok-pokoknya hampir sama. Gagasan utama (central ideas), ikhtisar uraian, pemikiran baru, perbedaan pokok, hal yang harus dipikirkan khalayak pendengar adalah contoh-contoh bagian yang harus dititikbrratkan, atau ditekankan. Dalam pesan tertulis, titik berat dapat dinyatakan dengan tanda garis bawah, huruf miring, huruf tebal, atau huruf besar. Dalam uraian lisan, titik berat dapat dinyatakan dengan hentian, tekanan suara yang dinaikkan, perubahan nada (intonasi), isyarat, dan sebagainya. Dapat pula didahului dengan keterangan penjelas seperti “Akhirnya sampailah pada inti pembicaraan saya”, atau “Saudara-saudara, yang terpenting bagi kita adalah …”, dan sebagainya.

Teknik Menyusun Pesan Pidato

H.A. Overstreet, seorang ahli ilmu jiwa untuk mempengaruhi manusia, berkata, “let your speech march”. Suruh pidato Anda berbaris tertib seperti barisan tentara dalam suatu pawai. Pidato yang tersusun tertib (well-organized) akan menciptakan suasana yang favorable, membangkitkan minat, memperlihatkan pembagian pesan yang jelas, sehingga memudahkan pengertian, mempertegas gagasan pokok, dan menunjukkan perkembangan pokok-pokok pikiran secara logis. Pengorganisasian pesan dapat dilihat menurut isi pesan itu sendiri atau dengan mengikuti proses berpikir manusia. Yang pertama kita sebut organisasi pesan (messages organization) dan yang kedua disebut pengaturan pesan (message arrangement).

Organisasi Pesan

Organisasi pesan dapat mengikuti enam macam urutan (sequence), yaitu: deduktif, induktif, kronologis, logis, spasial, dan topikal. Urutan deduktif dimulai dengan menyatakan dulu gagasan utama, kemudian memperjelasnya dengan keterangan penunjang, penyimpulan, dan bukti. Sebaliknya, dalam urutan induktif kita mengemukakan perincian-perincian dan kemudian menarik kesimpulan. Jika Anda menyatakan dulu mengapa perlu menghentikan kebiasaan merokok, lalau menguraikan alasan-alasannya, Anda menggunakan urutan deduktif. Tetapi bila Anda menceritakan sekian banyak contoh dan pernyataan dokter tentang akibat buruk merokok dan kemudian Anda menyimpulkan bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan, maka Anda menggunakan urutan induktif.

Dalam urutan kronologis, pesan disusun berdasarkan urutan waktu terjadinya peristiwa. Bila Anda diminta untuk berbicara tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Isra dan Mi’raj, Anda dapat membagi pesan sebagai berikut: (1) Kisah Perjalanan Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan (2) Kisah Perjalan Nabi dan Malaikat Jibril dari Masjidil Aqsa ke Mustawan.

Dalam urutan logis, pesan disusun berdasarkan sebab ke akibat atau dari akibat ke sebab. Bila Anda menjelaskan proses kekufuran dari sebab-sebabnya lalu ke gejala-gekalnya, maka Anda mengikuti urutan logis dari sebab ke akibat. Tetapi jika Anda memulai pembicaraan dari gejala-gejala atau tanda-tanda kekufuran, seperti seringnya seseorang bebuat syirik, meninggalkan kewiban sholat, memuja kuburan, lalu kemudian menjelaskan sebab-sebabnya, maka Anda mengikuti urutan logis dari akibat ke sebab.

Dalam urutan spasial, pesan disusun berdasarkan tempat. Cara ini dipergunakan jika pesan berhubungan dengan subjek geografis atau keadaan fisik lokasi. Ceramah tentang kisah perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama Islam, dapat disusun: (1) Kisah perjuangan Nabi di ketika di Mekah dan (2) Kisah Perjuangan Nabi di Madinah.

Dalam urutan topikal, pesan disusun berdasarkan topik pembicaraan: klasifikasinya, dari yang penting ke yang kurang penting, dari yang mudah ke yang sukar, dari yang dikenal ke yang asing. Ketika Anda diminta untuk berceramah tentang “Tiga Mutiara Hidup”, Anda menyusun topik pembicaraan mulai dari membicarakan masalah: Iman, Islam, dan Ikhsan, maka pidato Anda dapat dikatakan menggunakan urutan secara kronologis.

Pengaturan Pesan

Bila pesan sudah terorganisasi dengan baik, kita masih perlu menyesuaikan organisasi pesan ini dengan cara berpikir khalayak pendengar. Urutan pesan yang sejalan dengan proses berpikir manusia disebut oleh Alan H. Monroe sebagai motivated sequence (urutan bermotif). Menurut Monroe, ada lima tahap urutan bermotif: perhatian (attention), kebutuhan (needs), pemuasan (satisfaction), visualisasi (visualization), dan tindakan (action).

Dengan demikian, pidato yang baik dan efektif adalah pidato yang sejak awal mampu membangkitkan perhatian khalayak pendengar, mampu membuat pendengar merasakan adanya kebutuhan tertentu, memberikan petunjuk bagaimana cara memuaskan kebutuhan tersebut, dapat menggambarkan dalam pikirannya penerapan usul yang dianjurkan kepadanya, dan akhirnya mampu menggerakkan khalayak untuk bertindak sesuai anjuran kita.

Misalnya, kita akan mengajak seseorang untuk memotong rambutnya yang gondrong. Anda memuali pembicaraan dengan melontarkan perkataan: “Lihat rambutmu!!! Kutu-kutu bergelantungan dengan bebasnya…” Anda sedang memasuki tahap perhatian. Lalu Anda berkata lagi, “Kutu-kutu itu tentu membuat kepalamu gatal dan kamu pasti tidak bisa tidur nyenyak…” Anda tengah berada pada tahap membangkitkan kebutuhan. “Memotong rambut itu mudah dan murah, cukup dengan uang Rp 3.000 atau bahkan gratis…” Anda masuk pada tahap pemuasan. “Jika kamu tetap membiarkan rambutmu jabrig begitu dan membebaskan kutu-kutu menyedot darahmu, kamu tampak seperti orang kurang waras dan mustahil gadis-gadis di desa ini akan tertarik kepadamu…, tapi jika kamu cepat memotong dan merapihkan rambutmu, kutu-kutu itu akan segera mengucapkan selamat tinggal pada kepalamu dan gadis-gadis cantik akan mengucapkan selamat datang arjunaku…” Anda sudah masuk pada tahap visualisai. “Ayo, cukurlah rambutmu sekarang…!!!” Anda melakukan tahap tindakan.

Membuat Garis-garis Besar Pidato

Garis-garia besar (out-line) pidato merupakan pelengkap yang amat berharga bagi pembicara yang berpengalaman dan merupakan keharusan bagi pembicara yang belum berpengalaman. Garis besar pidato ibarat peta bumi bagi komunikator yang akan memasuki daerah kegiatan retorika. Peta ini memberikan petunjuk dan arah yang akan dituju. Garis besar yang salah akan mengacaukan “perjalanan” pembicaraan, dan garis besar yang teratur akan menertibkan “jalannya” pidato.

Garis-garis besar pidato yang baik terdiri dari tiga bagian: pengantar, isi, dan penutup. Dengan menggunakan urutan bermotif dari Alan H. Monroe, kita dapat membaginya menjadi lima bagian: perhatian, kebutuhan, pemuasan, visualisasi, dan tindakan. Perhatian ditempatkan pada pengantar; kebutuhan, pemuasan, dan visualisasi kita tempatkan pada isi; dan tindakan kita tempatkan pada penutup pidato.

TAHAP MENYAMPAIKAN PIDATO

Kita seringkali menyaksikan seseorang yang berpidato di mimbar bergetar (dalam bahasa Sunda: ngadegdeg), suaranya tersendat-sendat, muka dan badanya basah kuyup karena guyuran keringat yang mengalir deras. Hadirin diam, terkesima…bukan karena kagum pada penampilanny tetapi karena ………. kasihan dan tidak tega melihatnya. Dalamilmu komunikasi, keadaan seperti itu disebut kecemasan berkomunikasi (communication apprehension).

Kecemasan berkomunikasi adalah batu sandungan yang besar bagi seorang pembicara. Ia menghilangkan kepercayaan diri. Kecemasan berkomunikasi amat mempengaruhi kredibilitas komunikator. Betapa pun bagusnya pesan yang Anda sampaikan, betapa pun sistematisnya organisasi pesan yang Anda buat, tanpa kepercayaan diri dan kredibilitas, Anda akan kehilangan pengaruh dan pendengar sekaligus.

Sebab-sebab Kecemasan Komunikasi

Orang mengalami kecemasan komunikasi disebabkan beberapa hal. Pertama, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak tahu bagaimana memulai pembicaraan. Ia tidak dapat memperkirakan apa yang diharpkan pendengar. Ia menghadapi sejumlah ketidakpastian. Untuk mengatasi sebab pertama ini, latihan dan pengalaman sangat diperlukan. Pengetahuan tentang retorika akan memberikan kepastian ke[adanya untuk memulai, melanjutkan, dan mengakhiri pembicaraan. Latihan-latihan akan memberikan pengalaman. Melalui latihan, ia akan dapat memastikan, atau paling tidak menduga, reaksi pendengarnya. Resepnya: “Bisa karena biasa”. Dale Carnegie memberikan nasihat yang singkat, “Lakukan apa yang Anda takut melakukannya”. Jadi, jika Anda takut berbicara di depan khalayak (orang banyak), cobalah berbicara di depan mereka.

Sayang sekali, orang yang takut berpidato justru selalu menghindari kesempatan untuk itu. Makin sering ia menghindari bicara, makin sulit ia untuk melakukannya. Bila suatu saat ia “terjebak” untuk berbicara, ia tentu akan mengalami peristiwa yang sangat traumatis. Terjadilah lingkaran setan, ia makin membenci pidato, dan karena kebenciannya itu ia akan gagal terus dalam berpidato. Akhirnya, terbentuklah citra diri (self image): Saya tidak mempunyai bakat untuk berpidato. Saya tidak mampu berpidato. Saya memang tidak dilahirkan untuk berpidato, tetapi untuk mendengar. Dengan citra diri seperti itu, ia tidak akan memiliki kepercayaan diri (self confidence). Tanpa kepercayaan diri, ia gagal. Kegagalan akan memperburuk lagi citra diri. Begitulah seterusnya, seperti lingkaran setan.

Kedua, orang menderita kecemasan komunikasi karena tahu ia akan dinilai oleh orang lain. Berhadapan dengan penilaian membuat orang menjadi gugup atau nervous. Penilaian dapat mengangkat dan menjatuhkan harga dirinya. Tetapi pada umumnya kita memperhatikan yang kedua. Bagaimana bila kita dipermalukan orang? Alangkah malunya bila humor yang kita buat tidak membuat orang tertawa, tetapi justru membuat orang menertawakan kita? Bagaimana kalau kita kelihatan tolol dan bodoh di hadapan orang banyak? Semua yang dutakutkan itu sebenarnya lebih banyak terdapat di dalam pikiran dan perasaan kita daripada dalam kenyataan. Seandainya pidato kita gagal, harga diri kita tidaklah akan jatuh serendah itu. Apalagi, berdasarkan pengalaman, kegagalan itu hanya terjadi pada percobaan-percobaan yang pertama saja, dan khalayk pendengar pun pasti memakluminya. Bukankah kita dulu waktu kecil pernah jatuh berkali-kali sebelum dapat berjalan dan berlari kencang seperti sekarang ini?

Ketiga, kecemasan komunikasi dapat menimpa pemula, bahkan mungkin juga menimpa orangorang yang terkenal sebagai pembicara yang baik. Hal ini dapat terjadi jika pembicara berhadapan dengan situasi yang asing dan ia tidak siap. Misalnya, ia diminta berbnicara dihadapan khalayak yang tidak ia kenal dan mereka tidak mengenalnya; atau ia harus berbicara tentang persoalan yang sama sekali tidak dikuasainya; atau ia tidak punya cukup waktu untuk membuat persiapan. Cara mengatasinya: lakukan analisis situasi dan analisis khalayak, carilah topik pembicaraan yang paling Anda kuasai sehingga Anda tampak kredibel.

Cara-cara Penyampaian Pidato

Tahapan yang dilakukan dalam menyampaikan pidato secara garis besar terdiri dari tiga tahap: (1) Tahap Membuka Pidato, (2) Tahap Mengembangkan Isi Pidato, dan (3) Tahap Menutup Pidato.

Pembukaan pidato adalah bagian penting dan menentukan. Kegagalan dalam membuka pidato akan menghancurkan seluruh komposisi dan presentasi pidato. Tujuan utama pembukaan pidato adalah membangkitkan perhatian , memperjelas latar belakang pembicaraan, dan menciptakan kesan yang baik mengenai komunikator. “Perhatian akan menentukan tindakan,” kata William James. Tetapi kesan pertama akan menentukan sikap. Karena itu seorang pembicara harus memulai pembicaraannya dengan penuh kesungguhan, sehingga ia kelihatan mantap, berwibawa, dan mampu. Ucapan-ucapan apologetis seperti minta maaf atau sikap merendahkan diri semuanya harus Anda hindari. Walaupun demikian, tidak baik pula Anda menepuk dada dan menyombongkan diri.

Hal pertama kali yang harus Anda lakukan dalam tahap ini (tahap pembukaan) adalah mengesankan agar pendengar siap untuk memperhatikan Anda. Bangkitkan perhatian pendengar pada Anda dan topik yang akan Anda sampaikan! Bagaimana caranya? Di bawah ini diuraikan pedoman dalam membuka pidato, Anda dapat memilih salah satu di antara cara-cara di bawah ini:

Langsung menyebutkan pokok persoalan.

Komunikator (orang yang melakukan pidato) menyebutkan ahal yang akan dibicarakannya dan memberikan kerangka pembicaraannya. Cara ini biasanya dilakukan bila topik adalah pusat perhatian khalayak. Di depan hadirin yang sudah lama menanti penjelasan tentang hukum waris (faro’id), seorang mubaligh memulai pidatonya sebagai berikut:

Saudara-saudara, pagi ini saya akan membicarakan cara-cara mengatur dan membagi-bagikan harta warisan kepada ahli waris menurut hukum Islam.

2. Melukiskan latar belakang masalah

Komunikator menerangkan sejarah topik, membatasai pengertian, dan menyatakan masalah-masalah utamanya. Mengapa timbul persoalan itu, apa hubungannya dengan khalayak, dan mengapa dipilih masalah itu. Seorang mubaligh yang berbicara tentang pentingnya infak memulai pidatonya seperti ini:

Saudara-saudara, sudah lama kita mengetahui bahwa banyak usaha amal shalih yang tidak dapat dijalankan karena kekuarangan dana. Islam mengajarkan cara mengumpulkan dana yang disebut infak. Infak adalah kelebihan harta yang digunakan untuk proyek yang produktif bagi masyarakat. Al Quran mengatakan bahwa infak adalah satu ciri orang yang takwa, ciri saudara-saudara yang beriman kepada Allah dan hari akhir

3. Menghubungkan dengan peristiwa mutakhir atau kejadian yang tengah menjadi pusat perhatian khalayak

Dengan menambatkan pembicaraan kepada fokus perhatian khalayak, kita mempunyai peluangyang baik untuk memasukkan ide-ide kita dan menimbulkan kesan yang kuat. Sebagai contoh, pada tanggal 8 Desember 1941, Franklin D. Roosevelt, Presiden Amerika Serikat, menyamoaikan pidato pernyataan perang kepada Jepang di depan kongres dengan pidato seperti ini:

Kemarin, 7 Desember 1941 –tanggal yang akan tetap abadi- Amerika Serikat tiba-tiba dan secara sengaja diserang oleh Angkatan Laut dan Angkatan Udara Kerajaan Jepang

4. Menghubungkan dengan peristiwa yang sedang diperingati

Ini biasanya dilakukan dalam pidato untuk memperingati hari bersejarah, bangunan baru, atau orang besar yang sudah tiada. Cara ini dapat pula dipakai pada pesta kelahiran, perkawinan, selamatn, atau upacara kematian. Seorang mubaligh muda memulai pidatonya dalam peringatan maulud nabi sebagai berikut:

Saudara-saudara, hadirin sekalian!

Alangkah bahagianya kita, kaum muslimin, pada hari ini. Pada hari ini, kita masih diberikan kesempatan umur sehingga kita dapat memperingati kelahiran orang yang paling kita junjung tinggi, Nabi Besar Muhammad SAW. Banyak hikmah yang dapat kita petik dari sejarah kelahiran Rasulullah

5. Menceritakan pengalaman pribadi

Pengalaman pembicara yang menarik dapat membuka minat pendengar. Pengalaman tersebut akan terasa “dekat” dan “nyata”, sebab orang yang mengalaminya hadir ditengah-tengah khalayak. Dalam sebuah kampanye Pemilu tahun 1977, seorang juru kampanye memulai pidatonya seperti ini:

Dua hari yang lalu saya berpidato di tengah-tengah rakyat kecil di Sukabumi. Udara terik membakar, lapangan penuh sesak, dan panggung tempat saya berdiri dipenuhi pemuda-pemuda belasan tahun. Tidak jauh dati panggung berdiri seorang kakek. Mukanya sudah keriput, punggungnya sudah bongkok, tapi… pada matanya saya lihat cahaya harapan yang menyala-nyala untuk turut berjuang dengan partai saya…

6. Membuat humor

Pembukaan jenis ini adalah yang paling sukar. Bahkan beberapa penulis buku teknik berpidato tidak menganjurkannya. Tetapi bila berhasil, pembukaan seperti ini amat berkesan bagi pendengar. Seorang Jenderal pensiunan berpidato di hadapan para purnawiraan dengan pembukaan seperyti ini:

Saudara-saudara, sesama purnawiraan!

Sebagai mantan prajurit kita patut berbangga hati, sebab tentara itu serba bisa. Tentara Indonesia itu bisa menjalankan fungsi apa saja: jadi bupati, bisa; jadi gubernur, bisa; jadi presiden, bisa; yang tidak bisa adalah menjalankan fungsi utama yaitu…berperang!

Dengan pembukaab seperti itu, hadirin mungkin tertawa terpingkal-pingkal atau mungkin juga …marah dan memaki pembicara.

Banyak sekali cara yang dapat kita lakukan untuk membuka pidato. Coba lihat kembali hal-hal yang dapat dijadikan topik bahasan pidato pada halaman 3, itu pun dapat dijadikan sumber untuk membuka pidato.

Pengembangan isi pidato pada dasarnya dilakukan dengan cara memberikan uraian-uraian penjelasan terhadap hal-hal yang disampaikan dalam tahap pembukaan. Dalam tahap mengembangkan isi pidato, gunakan teknik-teknik pengembangan poko bahasan yang sudah diuraikan di halaman 6, yakni: penjelasan, contoh, analogi, statistik, testimoni, dan perualangan.

Penutupan pidato adalah sama pentingnya den gan pembukaan pidato, dan sangat menentukan keberhasilan pidato yang kita lakukan. Penutupan pidato dapat dilakukan dengan cara-cara:

1. Menyimpulkan atau mengemukakan ikhtisar pembicaraan

2. Menyatakan kembali gagasan utama dengan kalimat dan kata yang berbeda

3. Mendorong khalayak untuk bertindak

4. Mengakhiri dengan klimaks

5. Mengutamakan kutipan dari kitab suci, peribahasa, atau ucapan seorang ahli

6. Menceritakan contoh yang berupa ilustrasi dari tema oembicaraan

7. Menerangkan maksud sebenarnya pribadi pembicara

8. Memuji dan mengharghai khalayal

9. Membuat pernyataan yang humoris atau anekdot lucu.

PRINSIP-PRINSIP PENYAMPAIAN PIDATO

Dalam menyampaikan pidato ada tiga prinsip atau rukun pidato, yakni:

1. Pelihara kontak visual dan kontak mental dengan khalayak pendengar (Kontak).

2. Gunakan Lambang-lambang auditif; atau usahakan agar suara Anda memberikan makna yang lebih kaya pada bahasa Anda (Olah Vokal).

3. Berbicaralah dengan seluruh kepribadian Anda; dengan wajah, tangan, dan tubuh Anda (Olah Visual).

PENUTUP

Dengan mengetahui teknik-teknik membuka dan menutup pidato, bagi Anda terbuka beberapa alternatif yang dapat Anda pilih. Tetapi pada akhirnya, mutu teknik-teknik itu tergantung pada kreativitas Anda sendiri. Selamat belajar dan mencoba. Semoga berhasil.

Oleh: Dadang Sugiana

I. LATAR BELAKANG

1. Kegagalan maupun keberhasilan pencapaian tujuan-tujuan pembangunan infrastruktur dari aspek sosial terletak pada penolakan dan penerimaan masyarakat sasaran terhadap ide pembangunan yang ditawarkan serta produk yang dihasilkan. Apabila masyarakat menolak ide dan produk pembangunan berarti program pembangunan tersebut gagal, sebaliknya jika mereka menerima maka program pembangunan itu dinilai berhasil. Penolakan dan penerimaan masyarakat terhadap ide yang ditawarkan dan produk pembangunan yang dihasilkan akan sangat mempengaruhi tingkat partisipasi mereka dalam proses implementasi program maupun pascaproduksinya. Tingkat partisipasi masyarakat tersebut merupakan indikator yang menunjukkan rasa kebutuhan dan rasa memiliki mereka terhadap produk pembangunan yang dihasilkan. Dengan demikian, penemuan, ide, dan program pembangunan sebaik apapun tidak akan mengubah sikap dan perilaku masyarakat sebagaimana diharapkan oleh pemerintah.

2. Setiap ide dan program pembangunan, secara teoretis, harus dipandang sebagai sebuah upaya pembaruan (inovasi), baik secara teknis maupun sosial. Oleh karena itu, langkah awal untuk mewujudkan penerimaan dan tingkat partisipasi masyarakat secara optimal yang perlu dilakukan adalah upaya-upaya yang mengarah pada perubahan pengetahuan, sikap mental, dan perilaku masyarakat ke arah yang dikehendaki oleh otoritas penyelenggaraan program pembangunan (pemerintah). Secara konsesional, langkah-langkah itu disebut difusi inovasi (penyebaran ide-ide baru), yang dalam bahasa politik dikenal dengan istilah sosialisasi.

3. Sosialisasi program atau difusi inovasi merupakan bentuk kegiatan komunikasi sosial atau komunikasi pembangunan. Keefektifan komunikasi pembangunan (dalam arti menghasilkan efek positif), jelas memerlukan perencanaan atau disain program yang benar, baik dalam tataran strategis, taktis, maupun teknis operasionalnya. Perencanaan komunikasi merupakan sebuah keharusan dan merupakan bagian tak terpisahkan dari perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan itu sendiri. Perencaan komunikasi (communication planning) yang pertama kali harus dibuat adalah perencanaan yang bersifat strategis, yang nantinya akan menjadi dokumen dan panduan dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan komunikasi pembangunan (sosialisasi) dalam tataran taktis dan teknis operasional.

4. Penyusunan perecanaan komunikasi pembangunan (development communication) memerlukan kajian ilmiah tentang kondisi-kondisi ideal dan kondisi-kondisi objektif yang berkaitan dengan sumberdaya komunikasi yang relevan dengan kepentingan dan tujuan proses komunikasi (sosialisasi) yang akan dilakukan. Sumberdaya komunikasi yang perlu diidentifikasi di antaranya menyangkut unsur-unsur proses komunikasi, mulai dari khalayak sasaran komunikasi atau komunikan (receivers atau communicatee), pesan-pesan yang akan disampaikan (messages), saluaran komunikasi yang akan digunakan (channel atau media), sampai pada sumber atau penyampai pesannya (source atau communicators). Atas dasar kajian analitis terhadap unsur-unsur proses komunikasi tersebut, selanjutnya dapat ditentukan model komunikasi dan strategi komunikasi seperti apa yang perlu digunakan sebagai landasan atau panduan pelaksanaan proses komunikasi yang akan dilakukan.

II. KONSEP AKADEMIS TENTANG SOSIALISASI

1. Konsep Dasar Sosialisasi

Sosialisasi merupakan aktivitas komunikasi yang bertujuan untuk menciptakan perubahan pengetahuan, sikap mental, dan perilaku khalayak sasaran terhadap ide pembaruan (inovasi) yang ditawarkan. Oleh karena itu, proses sosialisasi sama dengan komunikasi pembangunan yang substansi pesannya berupa ide-ide pembaruan atau inovasi, baik inovasi teknologi maupun inovasi sosial. Konsep komunikasi pembangunan yang demikian disebut Komunikasi Inovasi (Communication of Innovation) yang titik beratnya terletak pada upaya menyebarkan inovasi (difussion of innovation) ke dalam sistem sosial (masyarakat) sasaran agar terjadi penerimaan atau adopsi terhadap inovasi yang ditawarkan (Rogers dan Shoemaker, 1987).

Tindakan adopsi atau rejeksi inovasi oleh sistem sosial akan menimbulkan konsekuensi-konsekuensi logis dalam bentuk sikap dan perilaku khalayak pada tahap implementasi program pembangunan yang dicanangkan. Dengan kata lain, target akhir yang harus dicapai dalam kegiatan komunikasi inovasi adalah terjadinya perubahan sosial. Perubahan sosial adalah proses dimana terjadi perubahan struktur dan fungsi suatu sistem sosial. Struktur sistem sosial terdiri dari berbagai status individu dan status kelompok yang teratur. Berfungsinya struktur status-status itu merupakan seperangkat peran atau perilaku nyata seseorang dalam status tertentu. Status dan peran ibarat dua sisi mata uang yang satu sama lain saling mempengaruhi. Fungsi sosial dan struktur sosial berhubungan sangat erat dan saling mempengaruhi. Dalam proses perubahan sosial, jika salah satu berubah maka yang lain akan berubah pula. Dengan demikian, sasaran utama proses perubahan sosial (proses komunikasi inovasi atau komunikasi pembangunan) adalah anggota sistem sosial. Dilihat dari ukurannya, sistem sosial itu sendiri ada yang besar, misalnya negara, provinsi, kabupaten/kota, ada pula yang kecil, misalnya kelompok.

Proses perubahan sosial terdiri dari tiga tahap: (1) invensi, yaitu proses dimana ide-ide baru diciptakan dan dikembangkan, (2) difusi, yakni proses ide-ide baru itu dikomunikasikan ke dalam sistem sosial, dan (3) konsekuensi, adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem sosial sebagai akibat pengadpsian atau penolakan inovasi. Perubahan terjadi jika penggunaan atau penolakan ide baru itu mempunyai akibat. Dengan demikian dapat disimpulkan, perubahan sosial adalah akibat dari komunikasi sosial atau komunikasi pembangunan. Atas dasar konsepsi itulah maka proses sosialisasi merupakan proses lanjutan dari proses invensi. Dalam konteks pembangunan rumah susun di kawasan perkotaan, proses invensi telah terjadi, yakni dengan telah dicanangkannya program pembangunan rumah susun oleh pemerintah. Masalahnya adalah bagaimana menyosialisasikannya agar program tersebut mehasilkan konsekuensi positif sesuai dengan yang diharapkan.

2. Jenis-jenis Perubahan Sosial

Salah satu yang paling tepat untuk memahami perubahan sosial adalah dengan cara memahami dari mana sumber terjadinya perubahan itu. Jika sumber perubahan itu dari dalam sistem sosial sendiri, perubahan itu disebut perubahan imanen, sedangkan jika dari luar sistem disebut perubahan kontak. Dalam konteks program pembangunan rumah susun, jelas bahwa perubahan yang akan dan harus diciptakan adalah perubahan kontak. Terdapat dua jenis perubahan kontak: perubahan kontak selektif dan perubahan kontak terarah. Perubahan kontak selektif terjadi jika anggota sosial terbuka pada pengaruh dari luar dan menerima atau menolak ide baru itu berdasarkan kebutuhan yang mereka rasakan (felt-needs). Perubahan kontak terarah atau perubahan terencana adalah perubahan yang disengaja dengan adanya pihak luar atau sebagian anggota sistem sosial yang bertindak sebagai agen pembaru (change of agent) yang secara intensif berusaha memperkenalkan ide-ide baru untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh lembaga dari luar sistems sosial yang bersangkutan. Dalam konteks pembangunan rumah susun ini perubahan kontak yang akan diciptakan lebih bertitik berat pada perubahan kontak terarah, sehingga pasti memerlukan rancangan strategi komunikasinya.

Apabila perubahan itu dipandang dari sudut unit adopsi (khalayak sasaran perubahan) yakni anggota sistem sosial, maka ada dua macam perubahan yaitu perubahan individual dan perubahan sistem sosial. Perubahan individual terjadi jika seseorang yang bertindak sebagai individu mengadopsi atau menolak inovasi. Perubahan pada level ini tergolong pada perubahan mikro, yang di dalamnya berkembang konsep/istilah pembangunan seperti: modernisasi, akulturasi, adopsi, belajar atau sosialisasi. Sementara itu, perubahan pada level sistem sosial (perubahan sosial) dikenal sebagai perubahan makro, yang di dalamnya berkembang konsep-konsep seperti: pembangunan, sosialisasi, integrasi atau adaptasi.

3. Keputusan Inovasi

Perubahan sosial yang terjadi pada sistem sosial pada dasarnya merupakan konsekuensi dari pengambilan keputusan yang dilakukan oleh anggota sistem sosial. Keputusan inovasi tersebut dapat berbentuk keputusan otoritas maupun keputusan individual. Keputusan otoritas adalah keputusan yang dipaksakan kepada seseorang oleh individu yang berada dalam posisi atasan. Sementara itu, keputusan individual adalh keputusan individu di mana individu yang bersangkutan ambil bagian dalam proses pembuatan keputusannya. Ada dua macam keputusan individual, yaitu: (1) keputusan opsional dan (2) keputusan kolektif. Keputusan opsional adalah keputusan yang dibuat oleh seseorang, terlepas dari keputusan-keputusan yang dibuat oleh anggota sistem sosial yang lainnya, sedangkan keputusan kolektif adalah keputusan yang dibuat oleh individu-individu yang ada dalam sistem sosial melalui konsensus.

Dalam konteks sosialisasi program pembangunan rumah susun di kawasan perkotaan, keputusan inovasi yang harus diwujudkan tampaknya lebih merupakan keputusan individual, baik keputusan opsional maupun keputusan kolektif.

4. Paradigma Keputusan Inovasi

Paradigma atau model proses komunikasi yang diperlukan untuk menciptakan keputusan-keputusan inovasi dalam upaya meciptakan perubahan sosial, masing-masing berbeda dan tergantung pada keputusan jenis apa yang akan diciptakan. Paradigma keputusan inovasi atau model komunikasi untuk menciptakan keputusan individual dapat digambarkan sebagai nerikut:

GAMBAR 1. PARADIGMA PROSES KEPUTUSAN INOVASI

(ANTECEDENT) (PROSES) (CONSEQUENCES)

Terus mengadopsi

Diskontinuansi

1. Ganti yang baru

2. Kecewa

ADOPSI

SUMBER KOMUNIKASI

SALURAN

Variabel penerima

1.Sifat-sifat pribadi (a.l.

sikap umum tehadap

perubahan

2.Sifat-sifat social (a.l.

Kekosmopolitan),

3.Kebutuhan nyata

terhadap inovasi

4. dan sebaainya

PENGENALAN

I

PERSUASI

II

KEPUTUSAN

III

KONFIRMASI

IV


Sistem Sosial.

Ciri-ciri Inovasi dalam pengamatan penerima.

  1. Keuntungan relative
  2. Kompatibilitas
  3. Kompleksitas
  4. Trialabilitas
  5. Observabilitas

Pengadopsian terlambat

1. Norma-norma sistem

MENOLAK

2. Toleransi terhadap

Tetap menolak

penyimpangan

3. Kesatuan Komunikasi


Model Proses Komunikasi untuk menciptakan perubahan inovasi kolektif dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.

PARADIGMA PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN INOVASI KOLEKTIF

1. Stimulasi minat ke arah kebutuhan akan ide-ide baru (oleh Stimulator)

2. Inisiasi ide-ide baru kedalam system social (oleh inisiator)

3. Legtimasi ide baru (oleh pemegang kekuasaan atau Legimilator)tu

4. Keputusan untuk melaksanakan penggunaan ide baru (oleh

Anggota system social)

5. Tindakan atau pelaksanaan penerapan ide baru di

masyarakat (oleh anggota system social).

Gambar 3. PARADIGMA YANG MENUNJUKKAN TAHAPAN DALAM PROSES KEPUTUSAN INOVASI OTORITAS

1.Pengenalan kebutuhan untuk

berubah dan inovasi

2. Persuasi dan penilaian terhadap

inovasi oleh unit

pengambilan keputus

an Fase pembuat keputusan

3. Keputusan berupa penerimaan

atau penolakan ino-

vasi oleh unit peng-

ambil keputusan

4. Komunikasi keputusan kepada

unit-unit adopsi da-

lam organisasi Fase Implementasi keputusan

5. Tindakan atau Implementasi

keputusan pengadop-

sian atau penolakan

Inovasi oleh unit ado

psi

GAMBAR 4. PARADIGMA YANG MENGGAMBARKAN PENERIMAAN ATAU PENOLAKAN INOVASI OLEH ELITE PENGUASA DALAM SUATU SISTEM

Inovas yang tidak Inovasi yang tidak cocok

Cocok bagi elite dengan Elire penguasa diperkenan

Penguaa ditolak kan dan merembes keseluruh sistem

Elite penguasa

Elite penentang

Menghendaki ino

Vasi yang mere

Struktr

Elite-penentang

Rakyat

III. TAHAPAN KEGIATAN SOSIALISASI

Inti kegiatan sosialisasi terletak pada upaya untuk memperkenalkan inovasi kepada khalayak sasaran, sehingga mereka menyadari adanya inovasi dan memahami inovasi yang dikomunikasikan. Selanjutnya diharapkan terjadinya sikap positif khalayak yang mendorong pada pengambilan keputusan untuk menerima (mengadopsi) inovasi serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Khalayak sasaran sosialisasi prgram baru (komunikasi inovasi) tersebut tidak lain adalah individu-individu yang tergabung di dalam suatu sistem sosial. Sistem sosial itu sendiri terdiri dari subsistem-subsistem yang dapat berupa individu, kelompok, organisasi, massa, komunitas, masyarakat, hingga bangsa.

Sejalan dengan konsep proses keputusan inovasi yang telah diungkapkan di atas (lihat Gambar 1. Paradigma Keputusan Inovasi), kegiatan komunikasi inovasi (sosialisasi) melibatkan tiga variabel besar, yaitu: (1) Variabel Anteseden, (2) Variabel Proses, dan (3) Variabel Konsekuensi.

Variabel Anteseden menunjukkan adanya beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dan dicermati sebelum dilakukannya kegiatan komunikasi inovasi. Faktor-faktor tersebut berkenaan dengan situasi dan kondisi khalayak sasaran, baik yang menyangkut karakteristik sosiodemografis, karakteristik psikografis, maupun kebutuhan-kebutuhan nyata dan kebutuhan yang dirasakan oleh khalayak sasaran program sosialisasi pada saat sekarang dan saat yang akan datang. Selain itu, harus dicermati pula karakteristik sistem sosial dimana khalayak sasaran berada, yakni meliputi percermatan terhadap norma-norma dan nilai-nilai sistem soaial yang dianut, tradisi, kebiasaan, dan budaya yang berkembang, serta unit-unit komunikasi (forum komunikasi) yang tersedia dan biasa digunakan oleh masyarakat pada sistem sosial yang bersangkutan untuk melakukan komunikasi sosial. Identifikasi dan percermatan terhadap faktor-faktor tersebut dikategorikan pada Tahap Persiapan Sosialisasi (Tahap Prasosialisasi).

Variabel Proses menunjukkan adanya tahap-tahap komunikasi inovasi (sosialisasi) yang harus ditempuh secara sistematis, yang terdiri dari:
(1) Tahap Pengenalan, (2) Tahap Persuasi, dan (3) Tahap Keputusan. Ketiga tahapan inilah yang merupakan inti dari kegiatan sosialisasi (Tahap Pelaksanaan Sosialisasi).

Tujuan akhir dari tahap pengenalan (proses memperkenalkan) inovasi adalah terciptanya rasa kesadaran (awareness) khalayak sasaran akan adanya inovasi (ide atau program baru) yang diperkenalkan. Mereka memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang program yang ditawarkan, memahami bagaimana program itu berfungsi baik secara teknis maupun secara sosial (berfungsi nyata bagi kehidupan sosial). Pada tahap ini informasi-informasi yang berkaitan dengan inovasi mulai disebarkan kepada khayalak sasaran, baik melalui media massa (surat kabar, siaran radio, siaran televisi, internet) maupun melalui media nirmassa (poster, billboard, spanduk, leaflet, booklet, brosur, selebaran, dan lain-lain) serta media-media interpersonal (tokoh masyarakat, pejabat, public figure, dan sebagainya). Proses komunikasi pada tahap pengenalan ini lebih dititikberatkan pada komunikasi yang bersifat informatif, yakni komunikasi yang substansi dan struktur pesannya lebih bersifat memberitahukan, memberi penjelasan kepada khalayak agar mereka memiliki pemahaman yang memadai tentang program baru yang ditawarkan. Dengan kata lain, sasaran perubahan perilaku yang hendak diwujudkan pada tahap pengenalan ini adalah perilaku kognitif.

Pada Tahap Persuasi, proses komunikasi diarahkan untuk membentuk sikap khalayak yang berupa sikap berkenan (mau menerima) atau tidak berkenan (tidak mau menerima) terhadap perogram baru yang diperkenalkan. Oleh karena itu, pada tahap persuasi ini aktivitas mental khalayak yang perlu dibangkitkan adalah afektif (perasaan), yang secara teoretis hannya akan terjadi apabila mereka sudah mengenal adanya inovasi yang ditawarkan. Pada tahap persuasi, proses komunikasi diarahkan untuk mendorong khalayak (orang-orang) lebih terlibat secara psikologis dengan inovasi atau program baru yang ditawarkan dan telah dikenalnya. Secara teoretis mereka didorong untuk aktif mencari informasi lebih lanjut mengenai inovasi atas kesadaran dan prakarsa sendiri. Pada tahap persuasi ini ada beberapa faktor yang harus diperhitungkan, baik dari faktor penerima (khalayak sasaran) maupun dari faktor inovasi yang ditawarkan. Dari faktor penerima, perlu diperhitungkan norma dan nilai sistem sosial yang dianut oleh khalayak, serta karakteristik siodemografis dan psikologisnya. Sementara itu, dari faktor inovasi sendiri perlu ditonjolkan ciri-ciri inovasi yang dapat dicermati secara empirik, misalnya: keuntungan relatif, kompatibilitas, kerumitan atau kesederhanaan inovasi, uji coba, dan contoh kongkret dan (observabilitas). Proses komunikasi pada tahap persuasi tidak hanya mengandalkan media massa dan media nirmassa, melainkan juga harus mengutamakan media tatap muka, seperti penyuluhan, penerangan, konsultasi, forum diskusi, seminar, workshop, atau yang lainnya, serta media visual seperti pameran.

Pada Tahap Keputusan, khalayak didorong untuk menerima inovasi (adopsi) atau menolak inovasi (rejeksi). Tentu saja, tujuan ideal proses difusi inovasi (sosialisasi) adalah terjadinya proses penerimaan atau adpsi. Oleh karena itu, dalam merancang kegiatan komunikasinya perlu juga diperhitungkan faktor-faktor yang dapat menggagalkan proses adopsi selain faktor-faktor yang mendukung keputusan untuk menerima.

Variabel Konsekuensi merupakan faktor yang timbul sebagai akibat dari tindakan pengambilan keputusan untuk menerima atau menolak inovasi. Jika keputusannya menerima inovasi (adopsi) maka konsekuensinya dapat berupa tindakan nyata untuk terus mengadopsi dan menerapkannya; atau mereka akan kecewa terhadap inovasi yang diadopsinya dan beralih atau menggantinya dengan inovasi atau program yang lain. Sebaliknya, jika keputusannya menolak inovasi (rejeksi), kemunkinannya ada dua: tetap menolak atau menerima walaupun terlambat. Pengadpsian terlambat bisa jadi disebabkan oleh tumbuhnya kesadaran, pemahaman, dan sikap positif khalayak yang timbul belakangan sebagai akibat proses pengenalan dan proses persuasi yang terus berlangsung secara berkesinambungan.

IV. LANGKAH-LANGKAH PRASOSIALISASI

Sebagaimana telah diungkapkan, pada tahap prasosialisasi aspek penting yang harus diidentifikasi adalah faktor-faktor yang berkaitan dengan karakteristik sosiodemografis, karakteristik psikografis, dan kebutuhan-kebutuhan nyata dan kebutuhan yang dirasakan (real needs dan felt needs) khalayak sasaran serta karakteristik sistem sosialnya (norma, nilai, tradisi, budaya, data mengenai sumberdaya dan prasarana komunikasi yang tersedia, dan sebagainya. Oleh karena itu, beberapa aktivitas yang perlu dilakukan di antaranya adalah:

1. Pengumpulan data, baik data primer maupun data sekunder. Pengumpulan data primer dapat ditempuh melalui kegiatan survei, focus group discussion (FGD). Sedangkan pengumpulan data sekunder dapat ditempuh melalui penelaahan bahan tertulis, baik berupa dokumen maupun bahan-bahan referensi lainnya, misalnya, mempelajari data yang tersedia di Badan Pusat Statistik (BPS), Pemerintah Daerah, Instansi atau Kantor Departemen/Dinas Tertentu, Laporan Penelitian, dan Buku-buku.

2. Analisis Kebutuhan, yakni aktivitas untuk menganalisis data yang telah dikumpulkan, sehingga sistuasi, kondisi, dan kebutuhan nyata serta kebutuhan yang durasakan oleh khalayak sasaran dapat diidentifikasi secara cermat dan akurat. Ketepatan dalam menganalisis kebutuhan ini akan sangat menentukan ketepatan kita dalam merancang strategi komunikasi yang akan dilakukan sehingga menghasilkan efek yang sesuai dengan yang diharapkan.

3. Perumusan Tujuan, yakni menetapkan hasil akhir yang akan dicapai dari kegiatan sosialisasi (komunikasi) yang dilakukan. Perlu dirumuskan perilaku apa yang harus diupayakan setelah proses komunikasi berlangsung. Sebagai contoh, penetapan tujuan dapat dirumuskan sebagai berikut:

(a) Pada tahap pengenalan, tujuan komunikasi diarahkan untuk memberikan pengetahuan (informasi) mengenai Program Seribu Tower kepada masyarakat sehingga mereka memiliki kesadaran dan pemahaman tentang program Seribu Tower dengan baik, baik dari segi teknis, ekonom, hukum, maupun sosial.

(b) Pada tahap persuasi, tujuan komunikasi diarahkan untuk membentuk sikap positif masyarakat terhadap Program Seribu Tower sehingga mereka mau mengadopsi program tersebut.

(c) Pada Tahap Keputusan, tujuan komunikasi diarahkan untuk mendorong masyarakat menerima Program Seribu Tower dengan cara membeli atau berpindah tempat tinggal.

(d) Pada Tahap Konfirmasi, tujuan komunikasi diarahkan untuk mendorong masyarakat agar mencari informasi lebih lanjut kepada instansi/pihak yang sengaja dibentuk oleh pihak pengelola program.

4. Inventarisasi Pencapaian Tujuan, yakni menginventarisasi sumberdaya-sumberdaya yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Sumberdaya yang perlu diinventarisasi memliputi: sumber daya komunikasi (sarana dan prasarana komunikasi, seperti: forum komunikasi yang tersedia, media komunikasi yang tersedia, forum komunikasi yang harus disediakan, media komunikasi yang harus diproduksi, dan lain-lain), sumberdaya ekonomi (biaya, tenaga pelaksana, tempat, waktu, dan lain-lain), dan sumberdaya teknis (segala sesuatu yang memudahkan proses pelaksanaan kegiatan).

5. Perumusan Rencana Strategis, yakni kegiatan merancang strategi-strategi komunikasi yang akan dilakukan. Perancangan srtategi komunikasi meliputi: strategi khalayak, strategi pesan, strategi media, dan strategi komunikator.

(a) Strategi khalayak adalah proses mengidentifikasi dan mengkategorisasikan khalayak sasaran komunikasi. Dalam hal ini perlu ditetapkan urutan prioritas kategori khalayak sasaran: siapa yang menjadi sasaran utama (sasaran primer) dan siapa yang menjadi sasaran antara (sasaran sekunder). Sasaran utama, misalnya, masyarakat perkotaan yang berpenghasilan rendah, sedangkan sasaran antara adalah kelompok orang yang memiliki otoritas dan kepemimpinan terhadap sasaran utama, misalnya: tokoh masyarakat, pimpinan perusahaan, para pejabat, para komandan, dan sebagainya. Setiap kelompok sasasaran ini harus benar-benar diidentifikasi secara cermat ciri karakteristik sosiodemografis dan psikografisnya. Dalam menentukan prioritas sasaran, tidak selalu menempatkan khalayak sasaran primer sebagai sebagai prioritas pertama kegiatan komunikasi, melainkan dapat saling bertukar tergantung pada situasi dan konteks komunikasnya. Untuk kegiatan komunikasi yang memanfaatkan konteks organisasional atau kelompok (pendekatan kelompok), maka sasaran prioritas komunikasi adalah para pemegang otoritas, sedangkan untuk kegiatan komunikasi dalam konteks sosial (pendekatan masal) maka sasaran prioritasnya adalah individu-individu atau khalayak sasaran utama program.

(b) Strategi Pesan, adalh proses perancangan pesan yang akan disampaikan sesuai dengan kategori khalayak yang dijadikan sasaran. Kegitan ini meliputi penyusunan struktur pesan, format atau gaya pesan, dan imbauan pesan.

Penyusunan struktur pesan, yakni penyusunan sistematika pesan, apakah secara kronologis (urutan waktu kejadian), secara spasila (urutan tempat kejadian), secara topikal (berdasarkan tema-tema bahasan), secara deduktif (dari informasi umum ke informasi spesifik), secara induktif (dari informasi spesifik ke informasi umum), atau secara urutan bermotif (motivated sequences) nyakni mengurutkan pesan berdasarkan tujuan untuk membangkitkan perhatian (attention), membangkitkan rasa kebutuhan (needs), memberikan jalan keluar untuk pemenuhan kebutuhan (satisfaction), memproyeksikan gagasan kita ke masa yang akan datang dari sisi untung-rugi (visualization), dan menegaskan tindakan yang perlu dilakukan (action). Adapun mengenai isi atau substansi pesannya harus menyangkut program atau inivasi yang dikomunikasikan. Sebagai contoh, untuk Program Sribu Tower (Rumah Susun Sederhana), isi pesannya menyangkut keseluruhan aspek yang terkait dengan program tersebut: aspek teknis, ekonomi, hukum, dan sosial, yang kesemuanya harus memuat unsur-unsur: keuntungan relatif (relative advantage), kompatibilitas (compatibility), kompleksitas dan kemudahan (complexity and simplicity), dan obsevabilitas atau bukti nyata (observability).

Selain itu perlu dirancang bagaimana format atau gaya pesannya (messages style), apakah bergaya formal, informal, atau kombinasi di antara keduanya. Pesan bergaya formal adalah pesan yang disusun dengan menggunakan bahasa formal/baku, sedangkan gaya informal adalah pesan yang menggunakan bahasa populer atau bahasa sehari-hari/bahasa gaul.

Hal lain yang perlu dirancang dalam menetapkan strategi pesan adalah imbauan pesan (messages appeals). Imbauan pesan dapat berupa imbauan rasional, imbauan emosional, imbauan ganjaran, imbauan rasa takut, dan imbauan motivasional.

Imbauan rasional adalah pesan yang menggunakan silogisme, yakni rangkaian pengambilan kesimpulan melewati premis major dan premis minor, dengan hubungan logika sebab akibat (jika-maka). Pesan yang berisi imbauan rasional perlu didukung oleh data, fakta, dan bukti-bukti empirik lainnya. Contohnya:
“Sampai tahun 2006, jumlah penduduk perkotaan di Indonesia yang belum memiliki tempat tinggal yang layak mencapai angka 80 persen”.

Imbauan emosional menggunakan pernyataan-pernyataan atau bahasa yang menyentuh emosi komunikan (khalayak sasaran). Dalam hal ini pesan menggunakan bahasa yang penuh muatan emosional untuk melukiskan situasi tertentu. Jadi, jangan mengatakan, “Sebagian besar penduduk perkotaan di Indonesia tidak memiliki rumah tinggal,” tetapi katakanlah, “Sebagian besar penduduk perkotaan di Indonesia biasa tidur bergelimpangan secara menggenaskan di kolong jembatan, di emperan toko, dan di tempat-tempat kumuh yang rawan penyakit dan tidakan kriminal.”

Imbauan ganjaran menggunakan rujukan yang menjanjikan komunikan (khalayak sasaran) sesuatu yang mereka butuhkan dan mereka inginkan. Bila kita menjanjikan kenyamanan dan keamanan tinggal di rumah susun kepada masyarakat, maka kita kita menggunakan imbauan ganjaran. Contoh: “Tinggal di rumah susun pasti BETAH.”

Imbauan rasa takut menggunakan pesan yang mencemaskan, mengancam, atau meresahkan. Rasa cemas, resah, dan takut tersebut terutama jika khalayak sasaran tidak memu menerima ide yang ditawarkan. Contoh: “Menolak program Seribu Tower berarti melanggengkan kesengsaraan hidup kita.”

Imbauan motivasional adalah pesan yang menggunakan imbauan motif yang menyentuh kondisi internal diri manusia. Contoh: “Ingin aman dan nyaman? Tinggallah di rumah susun!”

(c) Strategi Media, yakni proses menetapkan media komunikasi yang akan digunakan untuk menyalurkan pesan-pesan yang telah dirancang strateginya. Dalam menetapkan strategi media dapat berupa pengambilan kputusan tetang media apa yang akan digunakan atau dimanfaatkan, atau media apa yang akan diproduksi. Dengan demikian, strategi media itu dapat berupa kegiatan pengambilan keputusan untuk memilih media atau memutuskan media yang harus dibuat.

(d) Strategi Komunikator, yakni menetapkan siapa yang akan dijadikan sumber informasi (sumber pesan) dan penyampai informasi yang sudah dirancang. Dalam merancang komunikator, sangat perlu mempertim bangkan kredibilitas komunikator. Kredibilitas adalah seperangkat persepsi komunikan terhadap keahlian, kepakaran dan kemampuan (expertise), sifat-sifat dapat dipercaya (trustworthiness), dan dan daya tarik (attractiveness) yang dimiliki komunikator berkenaan dengan informasi atau pesan yang disampaikannya. Oleh karena itu, hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menetapkan sumber pesan dan penyampai pesan adalah orang-orang yang dianggap memiliki kompetensi di bidang yang dikomunikasikan, dapat dipercaya oleh khalayak sasaran, dan memiliki daya tarik, baik secara fisik maupun secara sosiologis dan psikologis.

6. Perumusan Rencana Operasional, yakni proses penetapan teknis pelaksanaan kegiatan di lapangan. Tahapan ini meliputi penetapan personel pelaksana, jadwal kegiatan, tempat kegiatan, fasilitas yang dibutuhkan, anggaran biaya, dan tahapan-tahan kegiatan, yang harus dilaksanakan secara nyata di lapangan.

7. Perumusan Rencana Evaluasi, yakni tahap penyusunan indikator kinerja untuk menilai kemajuan program, hasil-hasil program, dan dampak program. Oleh karena itu, perlu dilakukan penyusunan instrumen evaluasi mulai dari evaluasi proses atau evaluasi formatif (on going evaluation), evaluasi hasil atau evaluasi sumatif (evaluation of result), dan evaluasi dampak program (evaluation of impact).

V. LANGKAH PELAKSANAAN SOSIALISASI

Tahap ini merupakan tahap implementasi dari rencana strategis dan rencana operasional yang telah ditetapkan pada langkah prasosialisasi. Seluruh kegiatan harus mengacu pada perencanaan strategis dan perencanaan teknis operasional yang telah disusun terse but.

VI. LANGKAH PASCA SOSIALISASI

Tahap dimana seluruh rangkaian kegiatan sosialisasi dinilai tingkat keberhasilannya, terutama untuk memperoleh data tentang tingkat pencapaian tujuan program (hasil-hasil program) dan dampak program. Dengan demikian, kegiatan pascasosialisasi diisi dengan kegiatan untuk melaksanakan evaluasi hasil dan evaluasi dampak, yang instrumennya mengacu pada instrumen yang sudah dirancang pada tahap prasosialisasi.

Sumber Tulisan:

Rogers dan Shoemaker, 1987, Communication of Innovation: A Cross Cultural Approach, New York: Free Perss.

Oleh: dankfsugiana | 8 ,Juli, 2008

POPULASI DAN TEKNIK SAMPLING

Oleh: Dadang Sugiana

(Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung)

e-mai: dankfs@yahoo.co.id

PENGANTAR

 

Dalam penelitian kuantitatif, apalagi jika dirancang sebagai sebuah penelitian survei (survey research), keberadaan populasi dan sampel penelitian nyaris tak dapat dihindarkan. Populasi dan sampel merupakan sumber utama untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam mengungkapkan fenomena atau realitas yang dijadikan fokus penelitian kita. Demi mencapai keakuratan dan validitas data yang dihasilkan, populasi dan sampel yang dijadikan objek penelitian harus memiliki kejelasan baik dari segi scope, ukuran, maupun karakteristiknya. Dengan kata lain, kejelasan populasi dan ketepatan pengambilan sampel dalam penelitian akan menentukan validitas proses dan hasil penelitian kita.

 

Apa itu populasi penelitian? Apa itu sampel dan bagaimana kaitan antara populasi dan sampel dalam sebuah penelitian? Simak uraian-uraian di bawah ini.

 

 

KONSEP DASAR POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN

 

Populasi atau sering juga disebut universe adalah keseluruhan atau totalitas objek yang diteliti yang ciri-cirinya akan diduga atau ditaksir (estimated). Ciri-ciri populasi disebut parameter. Oleh karena itu, populasi juga sering diartikan sebagai kumpulan objek penelitian dari mana data akan dijaring atau dikumpulkan. Populasi dalam penelitian (penelitian komunikasi) bisa berupa orang (individu, kelompok, organisasi, komunitas, atau masyarakat) maupun benda, misalnya jumlah terbitan media massa, jumlah artikel dalam media massa, jumlah rubrik, dan sebagainya (terutama jika penelitian kita menggunakan teknik analisis isi (content analysis).

 

Populasi penelitian terdiri dari populasi sampling dan populasi sasaran. Populasi sampling adalah keseluruhan objek yang diteliti, sedangkan populasi sasaran adalah populasi yang benar-benar dijadikan sumber data. Sebagai contoh, misalnya kita akan meneliti bagaimana rata-rata tingkat prestasi akademik mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad dan kita hanya akan memokuskan penelitian kita pada mahasiswa yang aktif di lembaga-lembaga kemahasiswaan, maka seluruh mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad adalah populasi sampling, sedangkan seluruh mahasiswa yang aktif dalam lembaga kemahasiswaan adalah populasi sasaran.

 

Konsep lainnya yang harus dipahami-dan tidak boleh dikelirukan- adalah jumlah populasi (population numbers) dan ukuran populasi (population size). Jumlah populasi adalah banyaknya kategori populasi yang dijadikan objek penelitian yang dinotasikan dengan huruf K. Misalnya, ketika kita meneliti tingkat rata-rata prestasi akademik mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad (Fikom Unpad), maka jumlah populasinya adalah satu, yakni kategori mahasiswa. Sementara itu, jika kita meneliti sikap sivitas akademika Fikom Unpad terhadap kebijakan rektor dalam menaikkan biaya pendidikan, maka jumlah populasinya sebanyak kategori yang terkandung dalam konsep sivitas akademika, misalnya terdiri dari kategori mahasiswa, dosen, dan staf administratif. Jadi, jumlah populasinya ada tiga. Ukuran populasi adalah banyaknya unsur atau unit yang terkandung dalam sebuah kategori populasi tertentu, yang dilambangkan dengan huruf N. Misalnya, ketika kita meneliti bagaimana rata-rata tingkat prestasi akademik mahasiswa Fikom Unpad, maka jumlah populasinya adalah satu dan ukuran populasinya 8.236 orang (sesuai dengan jumlah mahasiswa yang terdaftar resmi di Fikom Unpad).

 

Jika kita menggunakan seluruh unsur populasi sebagai sumber data, maka penelitian kita disebut sensus. Sensus merupakan penelitian yang dianggap dapat mengungkapkan ciri-ciri populasi (parameter) secara akurat dan komprehensif, sebab dengan menggunakan seluruh unsur populasi sebagai sumber data, maka gambaran tentang populasi tersebut secara utuh dan menyeluruh akan diperoleh. Oleh karena itu, sebaik-baiknya penelitian adalah penelitian sensus. Namun demikian, dalam batas-batas tertentu sensus kadang-kadang tidak efektif dan tidak efisien, terutama jika dihubungkan dengan ketersedian sumber daya yang ada pada peneliti. Misalnya, bila dikaitkan dengan fokus penelitian, keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya yang dimiliki oleh peneliti.

 

Dalam keadaan peneliti tidak memungkinkan untuk melakukan sensus, maka peneliti boleh mengambil sebagian saja dari unsur populasi untuk dijadikan objek penelitiannya atau sumber data. Sebagian unsur populasi yang dijadikan objek penelitian itu disebut sampel. Sampel atau juga sering disebut contoh adalah wakil dari populasi yang ciri-cirinya akan diungkapkan dan akan digunakan untuk menaksir ciri-ciri populasi. Oleh karena itu, jika kita menggunakan sampel sebagai sumber data, maka yang akan kita peroleh adalah ciri-ciri sampel bukan ciri-ciri populasi, tetapi ciri-ciri sampel itu harus dapat digunakan untuk menaksir populasi. Ciri-ciri sampel disebut statistik. Sama halnya dengan populasi, dalam sampel pun ada konsep jumlah sampel dan ukuran sampel. Jumlah sampel adalah banyaknya kategori sampel yang diteliti yang dilambangkan dengan huruf k, yang jumlahnya sama dengan jumlah populasi (k=K). Sedangkan ukuran sampel (dilambangkan dengan huruf n) adalah besarnya unsur populasi yang dijadikan sampel, yang jumlahnya selalui lebih kecil daripada ukuran populasi (n<N). Mengapa kita harus benar-benar memahami (tidak mengelirukan) pengertian istilah jumlah sampel dengan ukuran sampel, sebab jumlah sampel dan sifat sampel yang diteliti (terutama untuk penelitian eksplanatif, misalnya penelitian korelasional) akan sangat menentukan uji statistik inferensial yang mana yang harus  digunakan untuk menguji hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian kita. Ketepatan dalam memilih uji statistik inferensial itu merupakan salah satu unsur penentu validitas atau kesahihan penelitian kita. Dalam menguji korelasi di antara variabel-variabel yang diteliti, misalnya, ada uji statistik inferensial yang hanya berlaku untuk menguji satu sampel, dua sampel independen, dua sampel berhubungan, dan k sampel independen atau k sampel berhubungan, dan sebagainya (Silakan baca buku Statistik Nonparametrik untuk Ilmu-Ilmu Sosial tulisan Sidney Siegel).

 

Karena data yang diperoleh dari sampel harus dapat digunakan untuk menaksir populasi, maka dalam mengambil sampel dari populasi tertentu kita harus benar-benar bisa mengambil sampel yang dapat mewakili populasinya atau disebut sampel representatif. Sampel representatif adalah sampel yang memiliki ciri karakteristik yang sama atau relatif sama dengan ciri karakteristik populasinya. Tingkat kerepresentatifan sampel yang diambil dari populasi tertentu sangat tergantung pada jenis sampel yang digunakan, ukuran sampel yang diambil, dan cara pengambilannya. Cara atau prosedur yang digunakan untuk mengambil sampel dari populasi tertentu disebut teknik sampling.

 

 

UKURAN SAMPEL

 

Ukuran sampel atau besarnya sampel yang diambil dari populasi, sebagaimana diungkapkan di atas, merupakan salah satu faktor penentu tingkat kerepresentatifan sampel yang digunakan. Pertanyaannya, berapa besar sampel harus diambil dari populasi agar memenuhi syarat kerepresentatifan?

 

Dalam menentukan menentukan ukuran sampel (n) yang harus diambil dari populasi agar memenuhi persyaratan kerepresentatifan, tidak ada kesepakatan bulat di antara para ahli metodolologi penelitian (hal ini wajar, sebab dalam dunia ilmu yang ada adalah sepakat untuk tidak sepakat asal masing-masing konsisten dengan rujukan yang digunakannya, sehingga ilmu itu bisa terus berproses dan berkembang). Pada umumnya, buku-buku metodologi penelitian menyebut angka lima persen hingga 10 persen untuk menegaskan berapa ukuran sampel yang harus diambil dari sebuah populasi tertentu dalam penelitian sosial. Pendapat ini tentu saja sulit untuk dijelaskan apa alasannya jika ditinjau dari aspek metodologi penelitian.

 

Sehubungan dengan hal itu, I Gusti Bagoes Mantra dan Kasto dalam buku yang ditulis oleh Masri Singarimbun dan Sofian Effendi, Metode Penelitian Survai (1989), menyatakan bahwa sebelum kita menentukan berapa besar ukuran sampel yang harus diambil dari populasi tertentu, ada beberapa aspek yang harus dipertimbangkan yaitu:

1.      Derajat Keseragaman Populasi (degree of homogenity). Jika tinggi tingkat homogenitas populasinya tinggi atau bahkan sempurna, maka ukuran sampel yang diambil boleh kecil, sebaliknya jika tingkat homogenitas populasinya rendah (tingkat heterogenitasnya tinggi) maka ukuran sampel yang diambil harus besar. Untuk menentukan tingkat homogenitas populasi sebaiknya dilakukan uji homogenitas dengan menggunakan uji statistik tertentu.

2.      Tingkat Presisi (level of precisions) yang digunakan. Tingkat presisi, terutama digunkan dalam penelitian eksplanatif, misalnya penelitian korelasional, yakni suatu pernyataan peneliti tentang tingkat keakuratan hasil penelitian yang diinginkannya. Tingkat presisi biasanya dinyatakan dengan taraf signifikansi (α) yang dalam penelitian sosial biasa berkisar 0,05 (5%) atau 0,01 (1%), sehingga keakuratan hasil penelitiannya (selang kepercayaannya) 1–α  yakni bisa 95% atau 99%. Jika kita menggunakan taraf signifikansi 0,01 maka ukuran sampel yang diambil harus lebih besar daripada ukuran sampel jika kita menggunakan taraf signifikansi 0,05.

3.      Rancangan Analisis. Rancangan analisis yang dimaksud adalah sesuatu yang berkaitan dengan pengolahan data, penyajian data, pengupasan data, dan penafsiran data yang akan ditempuh dalam penelitian. Misalnya, kita akan menggunkan teknik analisis data dengan statistik deskripti; penyajian data menggunakan tabel-tabel distribusi frekuensi silang (tabel silang) atau tabel kontingensi dengan ukuran 3X3 atau lebih dimana pasti mengandung sel sebanyak 9 buah, maka ukuran sampelnya harus besar. Hal ini untuk menghindarkan adanya sel dalam tabel tersebut yang datanya nol (kosong), sehingga tidak layak untuk dianalisis dengan asumsi-asumsi kotingensi. Jika kita menggunakan rancangan analisisnya hanya menggunakan analisis statistik inferensial, maka ukuran sampelnya boleh lebih kecil dibandingkan apabila kita menggunakan rancangan analisis statistik deskriptif saja. Dengan kata lain, rancangan penelitian deskriptif membutuhkan ukuran sampel yang lebih besar daripada rancangan penelitian eksplanatif.

4.      Alasan-alasan tertentu yang berkaitan dengan keterbatasan-keterbatasn yang ada pada peneliti, misalnya keterbatasan waktu, tenaga, biaya, dan lain-lain. (Catatan: Alasan ke-4 ini jangan digunakan sebagai pertimbangan utama dalam menentukan ukuran sampel, sebab hal ini lebih berkaitan dengan pertimbangan peneliti (tanpa akhiran an) dan bukan pertimbangan penelitian (metodologi).

 

Selain mempertimbangkan faktor-faktor di atas, beberapa buku metode penelitian menyarankan digunakannya rumus tertentu untuk menentukan berapa besar sampel yang harus diambil dari populasi. Jika ukuran populasinya diketahui dengan pasti, Rumus Slovin di bawah ini dapat digunakan.

 

 

 

 

 

Rumus Slovin:

                                                              N

                                                n =    ———

                                                        1  + Ne²

Keterangan;

n          = ukuran sampel

N          = ukuran populasi

e         =    kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang ditololerir, misalnya 5%.

Batas kesalahan yang ditolelir ini untuk setiap populasi tidak sama, ada yang 1%, 2%, 3%, 4%,5%, atau 10%.

 

Jika ukuran populasinya besar yang didapat dari pendugaan proporsi populasi, maka Rumus Yamane yang harus digunakan.

 

                                                   N

                                    n =    ———–

                                              Nd² + 1

 

d = batas toleransi kesalahan pengambilan sampel yang digunakan.

 

Misalnya, kita ingin menduga proporsi pembaca koran dari populasi 4.000 orang. Presisi ditetapkan di antara 5% dengan tingkat kepercayaan 95%, maka besarnya sampel adalah:

                                                           4000

                                    n =       ————————-     = 364

                                                4000 x (0,05)² + 1

 

 

KERANGKA SAMPLING (SAMPLING FRAME)

 

Di atas sudah ditegaskan, bahwa tingkat krepresentatifan sampel selain ditentukan oleh ukuran sampel yang diambil juga ditentukan oleh teknik sampling yang digunakan. Di antara teknik-teknik sampling tersebut, dalam penggunaannya,  ada yang mempersyaratkan tersedianya kerangka sampling. Kerangka sampling (sampling frame) adalah sebuah daftar yang memuat data mengenai seluruh unit atau unsur sampling yang terdapat pada populasi sampling. Secara gampang orang sering mengatakan, kerangka sampling adalah daftar nama-nama yang kerkandung dalam populasi penelitian.

 

 

JENIS SAMPEL DAN TEKNIK SAMPLING

 

Berdasarkan prosedur atau cara yang digunakan dalam mengambil sampel dari populasi (teknik sampling), kita dapat mengidentifikasi dua jenis sampel, yaitu: sampel probabilitas (probability sampling) dan sampel nonprobabilitas (nonprobability sampling). Sampel probabilitas atau disebut juga sampel random (sampel acak) adalah sampel yang pengambilannya berlandaskan pada prinsip teori peluang, yakni prinsip memberikan peluang yang sama kepada seluruh unit populasi untuk dipilih sebagai sampel. Sebaliknya, sampel nonprobabilitas atau sampel nonrandom (sampel tak acak) adalah sampel yang pengambilannya didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan tertentu (bisa pertimbangan penelitian maupun pertimbangan peneliti). Sampel probabilitas diambil dengan menggunakan teknik sampling probabilitas atau teknik sampling random, sedangkan untuk mengambil sampel nonprobabilitas atau sampel nonrandom digunakan teknik sampling nonprobabilitas, yakni pertimbangan-pertimbangan tertentu. Sampel probabilitas cenderung memiliki tingkat representasi yang lebih tinggi daripada sampel nonprobabilitas.

 

 

Teknik Sampling Probabilitas (Teknik Sampling Random)

 

a. Teknik Sampling Random Sederhana (Simple Random Sampling)

 

Sampel acak sederhana adalah sebuah sampel yang diambil sedemikian rupa sehingga setiap unit penelitian atau satuan elementer dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel. Peluang yang dimiliki oleh setiap unit penelitian untuk dipilh sebagai sampel sebesar n/N, yakni ukuran sampel yang dikehendaki dibagi dengan ukuran populasi.

 

Dalam menggunakan Teknik Sampling Random Sederhana ini ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain (Singarimbun dan Effendy, 1989):

1.      Harus tersedia kerangka sampling atau memungkinkan untuk dibuatkan kerangka samplingnya (dalam kerangka sampling tidak boleh ada unsur sampel yang dihitung dua kali atau lebih).

2.      Sifat populasinya harus homogen, jika tidak, kemungkinan akan terjadi bias.

3.      Ukuran populasinya tidak tak terbatas, artinya harus pasti berapa ukuran populasinya.

4.      Keadaan populasinya tidak terlalu tersebar secara geografis.

 

Teknis pelaksanaannya ada dua cara, yakni:

1.      Dengan mengundi unsur-unsur penelitian atau satuan-satuan elementer dalam populasi. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah menyusun semua unit penelitian atau unit elementer ke dalam kerangka sampling, mulai dari nomor terkecil hingga nomor ke-n (tergantung berapa besar ukuran populasinya). Selanjutnya masing-masing nomor unsur populasi itu ditulsikan dalam secarik kertas, digulung, dan dimasukkan ke dalam sebuah kotak atau toples. Lalu lakukan pengocokan secara merata, dan ambil sejumlah gulungan kertas tersebut sebanyak ukuran sampel yang dikehendaki. Nomor-nomr yang terambil itu menjadi unit elementer yang terpilih sebagai sampel. Pengundian juga dapat dilakukan seperti halnya ibu-ibu anggota kelompok arian menentukan pemenang arisannya. Gulungan kertas yang di dalamnya sudah berisi nomor unit elementer, dimasukkan ke dalam toples yang diberi tutup dengan lubang sebesar kira-kira dapat dilalui oleh setiap gulungan kertas yang ada di dalamnya. Lalu kocok berulang-ulang hingga keluar sejumlah gulungan kertas sesuai dengan ukuran sampel yang direncanakan. Penggunaan cara ini (cara pengundian) seringkali tidak praktis, terutama apabila ukuran populasinya relatif besar, sebab: pertama, hampir tidak mungkin kita dapat melakukan pengocokan secara saksama dan merata seluruh gulungan kertas undian; dan kedua, ada kecenderungan kita untuk tergoda memilih angka-angka tertentu. Dalam keadaan yang demikian, gunakan teknik kedua, yakni dengan mengundi Tabel Angka Random.

 

2.      Dengan menggunakan Tabel Angka Random. Cara ini dipilih karena selain meringankan pekerjaan, juga lebih memberikan jaminan yang lebih besar bahwa setiap unit elementer mempunyai peluang yang sama untuk terpilih sebagai sampel. Caranya adalah sebagai berikut: misalnya, dari satuan elementer dlam populasi (N) yang besarnya 500 orang, akan dipilih 50 satuan elementer sebagai sampel (n). Bilangan 500 ini terdiri dari tiga dijit (digit), oleh karena itu dalam kerangka sampling satuan elementernya diberi nomor mulai dari 001 sampai 500. Selanjutnya lihat Tabel Angka Random atau Tabel Bilangan Random yang selalu ada pada lampiran buku-buku metodologi penelitian atau buku-buku metode statistika. Karena angka-angka yang yang terdapat dalam Tabel Bilangan Random itu disusun secara kebetulan (randomly assorted), maka pemakai tabel tersebut dapat mulai melihatnya dari baris dan kolom mana saja. Di samping itu, ia dapat juga mengikutinya ke arah mana saja. Penentuan angka pertama dapat dilakukan, misalnya, dengan cara menjatuhkan pensil dengan mata pensil mengarah ke bawah pada lembaran kertas yang di dalamnya terdapat tabel bilangan random yang kita gunakan. Angka random yang terkena oleh mata pensil tadi adalah unsur sampel pertama yang kita pilih. Selanjutnya, kita dapat menentukan unsur sampel lainnya dengan cara berjalan ke atas mengikuti kolom yang sama, atau ke samping mengikuti baris, ke bawah mengikuti kolom, atau cara apa saja yang dianggap mudah.

 

b. Teknik Sampling Random Sistematik (Systematic Random Sampling)

 

Apabila ukuran populasinya sangat besar, hingga tidak memungkinkan dilakukan pemilihan sampel dengan cara pengundian, maka teknik sampling random sederhana tidaklah tepat untuk digunakan. Dalam keadaan populasi yang demikian, gunakanlah teknik sampling random sistematik. Persyaratan yang harus dipenuhi agar teknik sampling ini dapat digunakan, sama dengan persyaratan untuk sampel random sederhana, yakni tersedianya kerangka sampling (ukuran populasinya diketahui dengan pasti), dan populasinya mempunyai pola beraturan yang memungkinkan untuk diberikan nomor urut serta bersifat homogen.

 

Cara penggunaan teknik sampling random sistematik ini mirip dengan cara sampling random sederhana. Bedanya, pada teknik sampling sistematik perandoman atau pengundian hanya dilakukan satu kali, yakni ketika menentukan unsur pertama dari sampling yang akan diambil. Penentuan unsur sampling selanjutnya ditempuh dengan cara memanfaatkan interval sampel. Interval sampel adalah angka yang menunjukkan jarak antara nomor-nomor urut yang terdapat dalam kerangka sampling yang akan dijadikan patokan dalam menentukan atau memilih unsur-unsur sampling kedua dan seterusnya hingga unsur ke-n. Interval sampel biasanya dilambangkan dengan huruf k.

 

Interval sampel atau juga disebut sampling rasio diperoleh dengan cara membagi ukuran populasi dengan ukuran sampel yang dikehendaki (N/n). Misalnya, dari populasi (N) berukuran 500 kita akan mengambil sampel (n) berkuran 50, maka interval samplingnya adalah 500/50=10 atau k =10. Andaikan yang terpilih sebagai unsur sampling pertama adalah satuan elementer yang bernomor s, maka penentuan unsur-unsur sampel berikutnya adalah:

 

            Unsur pertama            = s

            Unsur kedua                = s + k

            Unsur ketiga                = s + 2k

            Unsur keempat           = s + 3k, dan seterusnya hingga unsur ke-n.

 

Untuk lebih jelasnya, di bawah ini diberikan contoh konkret.

Misalnya ukuran populasinya 500 (N=500) dan ukuran sampel yang akan diambil sebesar 50 (n=50), maka pasti k = 10. Andaikan saja unsur sampel pertama yang terpilih adalah nomor urut 005, maka unsur-unsur selanjunya yang harus diambil adalah nomor 015, 025, 035, 045, 055, 065, 075, dan seterusnya dengan berpatokan pada penambahan angka 10 dari nomor urut terakhir.

 

 

c. Teknik Sampling Random Berstrata (Stratified Random Sampling)

 

Teknik sampling ini digunakan apabila populasinya tidak homogen (heterogen). Makin heterogen suatu populasi, makin besar pula perbedaan sifat-sifat antara lapisan  tersebut. Padahal, sebagaimana telah diungkapkan di atas, presisi dan tingkat kerepresentatifan sampel yang diambil dari suatu populasi antara lain dipengaruhi oleh derajat keseragaman (tingkat homogenitas) populasi yang bersangkutan. Untuk dapat menggambarkan secara tepat tentang sifat-sifat populasi yang heterogen, maka populasi yang bersangkutan harus dibagi-bagi kedalam lapisan-lapisan (strata) yang seragam atau homogen, dan dari setiap strata dapat diambil sampel secara random (acak).

 

Untuk dapat menggunakan teknik sampling random strata, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain (Singarimbun dan Effendi, 1989:162-163):

1.      Harus ada kriteria yang jelas yang akan dipergunakan sebagai dasar untuk menstratifikasi populasi ke dalam lapisan-lapisan. Sebagai contoh, populasi penelitian Anda adalah seluruh mahasiswa Unpad. Dalam kenyataannya karakteristik mahasiswa Unpad tidak sama (tidak homogen) sebab di Unpad terdapat program pendidikan jenjang D3, S1, S2, dan S3 yang tentu saja karakteristik (terutama karakteristik akademisnya) berbeda-beda. Maka dalam keadaan populasi yang demikian, mahasiswa Unpad sebagai populasi harus dibagi kedalam strata (subpopulasi) mahasiswa D3, mahasiswa S1, mahasiswa S2, dan mahasiswa S3. Secara teoretis, yang dapat dijadikan kriteria untuk pembagian strata itu  ialah variabel-variabel yang akan diteliti atau variabel-variabel yang menurut peneliti mempunyai hubungan yang erat dengan variabel-variabel yang hendak diteliti itu. Misalnya, tingkat motivasi belajar mahasiswa erat kaitannya dengan jenjang pendidikan yang diikutinya. Jadi, dalam penelitian tentang motivasi belajar mahasiswa (misalnya), jenjang pendidikan dijadikan dasar dalam menentukan strata populasi.

2.      Harus ada data pendahuluan dari populasi mengenai kriteria yang dipergunakan untuk menstratifikasi. Misalnya, data mengenai pembagian jenjang pendidikan pada mahasiswa Unpad didasarkan pada kenyataan bahwa di Unpad memang terdapat berbagai jenjang pendidikan.

3.      Jumlah satuan elementer dari setiap strata (ukuran setiap subpopulasi) harus diketahui dengan pasti. Hal ini diperlukan agar peneliti dapat membuat kerangka sampling untuk setiap subpopulasi atau strata yang akan dijadikan sumber dalam menentukan sampel atau responden. (Harap dicatat, bahwa teknik sampling random strata ini baru efektif dalam menentukan ukuran sampel  yang harus diambil dari setiap strata dan belum mampu menentukan siapa saja sampel yang harus diambil untuk dijadikan responden penelitian). Untuk menentukan saampel sasaran atau responden masih perlu dilanjutkan dengan menggunakan teknik sampling random sederhana atau teknik sampling random sistematik, setelah sebelumnya dibuatkan kerangka sampling untuk setiap subpopulasinya.

 

Sampel strata terdiri dari dua macam, yakni sampel strata proporsional dan sampel strata disproporsional. Teknik sampling random strata proporsional digunakan apabila proporsi ukuran subpopulasi atau jumlah satuan elementer dalam setiap strata relatif seimbang atau relatif sama besar. Dalam sampel strata proporsional, dari setiap strata diambil sampel yang sebanding dengan besar setiap strata dengan berpatokan pada pecahan sampling (sampling fraction) yang sama  yang digunakan. Pecahan sampling adalah angka yang menunjukkan persentase ukuran sampel yang akan diambil dari ukuran populasi tertentu. Sebagai contoh, jumlah keseluruhan mahasiswa Unpad ada 25.000 orang, sehingga ukuran populasinya 25.000. Berdasarkan perhitungan tertentu, misalnya kita menggunakan Rumus Slovin, sampel yang harus diambil sebesar 2.500 orang mahasiswa, maka pecahan samplingnya adalah 0,10 (10%) yang diperoleh dengan cara membagi ukuran sampel yang dikehendaki dengan ukuran populasinya (n/N). Dengan demikian, maka dari setiap lapisan populasi (strata) harus diambil sampel sebesar 10 % sehingga akhirnya diperoleh ukuran sampel secara keseluruhan yang merepresentasikan populasi. Untuk lebih jelasnya, perhatikan tabel di bawah ini.

 

Tabel 1

Sampel Berstrata Proporsional untuk Penelitian Motivasi Belajar

di Kalangan Mahasiswa Universitas Padjadjaran

 

Jenjang            Ukuran                        % dalam          Pecahan          n               % dalam

Pendidikan      Populasi           Populasi           Sampling         Sampel                 Sampel

     D3               10.000               40%                  0,10               1.000        40%

     S1                 8.000                32%                  0,10                  800        32%

     S2                 5.000                20%                  0,10                  500        20%

     S3                 2.000                  8%                  0,10                  200          8%

                        _______          ______                                     ______    _____

                        25.000             100%                                        2.500      100%

Keterangan:

·         Ditentukan ukuran sampel 2.500

·         Pecahan sampling 2.500/25.000 = 0,10

·         Setiap jenjang pendidikan diwakili dalam sampel proporsinya dalam populasi.

 

Penggunaan Teknik Sampling Random Strata Proporsional agak kurang tepat jika proporsi ukuran subpopulasinya (jumlah satuan elementer pada strata) tidak seimbang, ada yang jumlahnya besar ada pula yang jumlahnya kecil, sehingga kalau digunakan teknik sampling strata proporsional dapat kejadian ukuran subpopulasinya sama dengan ukuran sampelnya. Padahal, jika ukuran sampelnya sama dengan ukuran populasinya (total sampling atau sensus) maka data yang diperoleh dari sampel tersebut tidak bisa diolah atau dianalisis dengan menggunakan analisis statistik inferensial. Oleh karena itu, dalam keadaan populasi yang demikian, gunakanlah Teknik Sampling Random Strata Disproporsional.

 

Pada Sampel Strtata Disproporsional, ukuran sampel yang diambil dari setiap subpopulasi (strata) sama besarnya, yang berbeda adalah pecahan samplingnya. Satu hal yang perlu dicatat dan diingat, jika menggunakan teknik sampling ini, nanti pada waktu analisis data, data yang diperoleh dari sampel masing-masing strata harus dikalikan dengan bobot yang disesuaikan pada strata tersebut. Teknis pengambilan sampel strata disproporsional dapat dilihat pada contoh tabel di bawah ini.

 

Tabel 2

Sampel Berstrata Disproporsional untuk Penelitian Motivasi Belajar

di Kalangan Mahasiswa Universitas Padjadjaran

 

Jenjang            Ukuran                  % dalam     Pecahan    n            Bobot      Bobot

Pendidikan      Populasi     Populasi     Sampling   Sampel                 Disesuaikan

     D3               10.000         40%           0,063        625       15,87             5

     S1                  8.000         32%           0,078        625        12,82            4

     S2                  5.000         20%           0,125        625          8                 3

     S3                  2.000           8%           0,313        625          3,19            1

                        _______      _____                        _____

                         25.000       100%                         2.500

 

Keterangan:

·         Ukuran sampel ditetapkan 2500, dibagi rata pada setiap strata (625).

·         Pecahan sampling berbeda-beda pada setiap strata (n/N).

·         Karena sampel setiap strata tidak proporsional dengan strata yang bersangkutan dalam populasi, maka data pada setiap strata harus dikalikan dengan bobot (bobot yang disesuaikan). Bobot diperoleh dengan rumus: 1/ps atau satu dibagi pecahan smpling. Untuk memudahkan perhitungan, bobot dibulatkan dengan angka terrendah sebagai standar (bernilai 1). Misalnya, 15,87/3,19 = 4,97, dibulatkan menjadi 5.

 

 

d. Teknik Sampling Random Klaster (Cluster Random Sampling)

 

Teknik ini digunakan apabila ukuran populasinya tidak diketahui dengan pasti, sehingga tidak memungkinkan untuk dibuatkan kerangka samplingnya, dan keberadaannya tersebar secara geografis atau terhimpun dalam klaster-klaster yang berbeda-beda. Misalnya, populasi puah penelitian kita adalah seluruh murid Sekolah Dasar (SD) yang ada di Wilayah Kota Bandung. Tidak mungkin kita dapat menghimpun semua data anak SD dalam sebuah daftar yang akurat, kalaupun mungkin, pasti daftar itu akan sangat panjang dan memerlukan waktu serta biaya yang tidak sedikit untuk menyusunnya. Maka kelompok siswa SD itu kita buat berdasarkan nama sekolahnya. Kelompok anak SD itu disebut klaster. Klater dapat berupa sekolah, kelas, kecamatan, desa, kelurahan, RW, RT, dan sebagainya. Apabila klaster itu bersifat wilayah geografis yang kecil, maka pengambilan sampelnya dapat dilakukan satu tahap (simple cluster sampling). Misalnya, wilayah penelitian kita ada di Kelurahan Gunung Sampah, yang terdiri dari 10 RW, maka kita dapat memilih beberapa RW secara random untuk dijadikan wilayah penelitian dengan konsekuensi seluruh penduduk sasaran di RW itu harus dijadikan sampel (responden).

 

Akan tetapi jika klasternya besar atau wilayah geografisnya besar, maka pengambilan sampel tidak cukup hanya satu tahap, melainkan harus beberapa tahap. Dalam keadaan yang demikian gunakanlah teknik sampling klaster banyak tahap (multistage cluster sampling). Misalnya kita akan meneliti pendapat seluruh ibu rumah tangga yang ada di wilayah Kota Bandung tentang konversi bahan bakar minyak tanah ke gas elpiji. Populasi penelitiannya adalah seluruh ibu rumah tangga yang ada di Kota Bandung. Kota Bandung kita bagi dulu ke dalam Wilayah Bandung Timur, Bandung, Barat, Bandung Selatan, dan Bandung Utara. Dari setiap wilayah itu kita jabarkan lagi pada kecamatan-kecamatan, lalu ambil secara random, misalnya, dua kecamatan dari setiap wilayah sehingga diperoleh delapan kecamatan. Apabila kita berhenti sampai di sini, maka seluruh ibu rumah tangga yang berdomisi di delapan kecamatan terpilih itu adalah sampel penelitian kita. Tetapi jika kita merasa jumlahnya masih terlalu besar, maka kita boleh menjabarkan wilayah kecamatan terpilih itu menjadi kelurahan-kelurahan, sehingga wilayah kecamatan tadi kita jadikan populasi sampling. Dari situ secara random, misalnya, kita ambil dua kelurahan dri setiap kecamatan terpilih, sehingga kita memiliki 16 kelurahan sebagai wilayah penelitian dengan konsekuensi seluruh ibu rumah tangga di 16 kelurahan itu harus dijadikan responden. Jika dirasakan masih terlalu banyak jumlahnya, kita diperbolehkan untuk menurunkan lagi wilayah penelitian pada wilayah yang lebih kecil, misalnya RW, dan seterusnya dengan cara yang sama.

 

                                                                              

Teknik Sampling Nonprobabilitas (Teknik Sampling Nonrandom)

 

Dalam menentukan sampel dengan menggunakan taknik sampling nonrandom, tidak menggunakan prinsip kerandoman (prinsip teori peluang). Dasar penentuannya adalah pertimbangan-pertimbangan tertentu dari peneliti atau dari penelitian. Sebagai konsekuensinya, teknik sampling nonrandom ini tidak dapat digunakan apabila penelitian kita dirancang sebagai sebuah penelitian eksplanatif yang akan menguji hipotesis tertentu, misalnya penelitian korelasional, karena rumus uji statistik inferensial tidak dapat diterapkan untuk data yang berasal dari sampel nonrandom. Teknik sampling ini secara luas sering digunakan untuk penelitian-penelitian eksploratif atau penelitian deskriptif.

 

Ada beberapa jenis sampel nonrandom yang sering digunakan dalam penelitian sosial/penelitian komunikasi, di antaranya adalah:

1.      Sampel Aksidental (accidental sampling). Sampel ini sering disebut sebagai sampel kebetulan yang pengambilannya didasarkan pada pertimbangan kemudahan bagi peneliti (bukan penelitian), sehingga sampel ini sering kali disebut convenience sampling atau sampel keenakan. Orang-orang ilmu statistika bahkan menyebutnya sebagai sampel kecelakaan, karena saking tidak representatifnya sampel tersebut. Sebisa mungkin, hindari untuk menggunakan sampel ini, jika kesimpulan penelitian kita ingin memperoleh kemampuan generalisasi yang tepat.

 

2.      Sampel Kuota (quota sampling). Teknik sampling kuota merupakan teknik sampling yang sejenis dengan teknik sampling strata. Perbedaannya adalah ketika mengambil sampel dari setiap strata tidak menggunakan cara-cara random, tetapi menggunakan cara-cara kemudahan (convenience). Caranya, tentukan ukuran sampel dari masing-masing strata lalu teliti siapa sejumlah orang yang sesuai dengan ukuran sampel yang ditentukan tadi, siapa saja asal berasal dari strata tersebut.

 

3.      Sampel Purposif (purposeful sampling). Teknik ini disebut juga judgemental sampling atau sampel pertimbangan bertujuan. Dasar penetuan sampelnya adalah tujuan penelitian. Sampel ini digunakan jika dalam upaya memperoleh data tentang fenomena atau masalah yang diteliti memerlukan sumber data yang memilki kualifikasi spesifik atau kriteria khusus berdasarkan penilaian tertentu, tingkat signifikansi tertentu. Misalnya, untuk meneliti kualitas cerita Film Ayat-ayat Cinta kita memerlukan reponden yang memiliki kualifikasi komptensi dalam bidang perfilman atau bidang komunikasi. Maka sampelnya adalah para kritikus film, para dosen produksi film, para ahli sinematografi, dan lain-lain.

 

 

Beberapa Masalah dalam Penelitian yang Berkaitan dengan Sampel

                                      

Dalam setiap penelitian, tidak tertutup kemungkinan untuk terjadi permasalahan atau penyimpangan. Besarnya penyimpangan yang dapat ditoleransi dalam suatu penelitian, tergantung pada sifat penelitian itu sendiri. Ada penelitian yang dapat mentolerannsikan penyimpangan yang besar; sebaliknya ada juga penelitian yang menghendaki penyimpangan yang kecil, sebab penyimpangan yang besar dapat menimbulkan kesimpulan yang salah.

 

Dalam suatu penelitian, ada kemungkinan timbul dua macam penyimpangan, yaitu:

 

1.      Penyimpangan karena Pemakaian Sampel (Sampling Error)

Seandainya tidak ada kesalahan pada pengamatan, satuan-satuan ukuran, definisi operasinal variabel, pengolahan data, dan sebagainya, maka perbedaan itu hanya disebabkan oleh pemakaian sampel. Mudah dimengerti bahwa semakin besar sampelnyang diambil, semakin kecil pula terjadi penyimpangan. Apabila sampel itu sudah sama besar dengan populasi, maka penyimpangan oleh pemakaian sampel pasti akan hilang.

 

 

2.      Penyimpangan Bukan oleh Pemakaian Sampel (Non-Sampling Error)

Jenis penyimpangan ini dapat ditimbulkan oleh berbagai hal, di antaranya adalah:

·         Penyimpangan karena kesalahan perencanaan. Misalnya karena tidak tepatnya definisi operasional variabel, kriteria satuan-satuan ukuran, dan sebagainya, memberikan peluang penyimpangan atau kesalahan pada hasil penelitian.

·         Penyimpangan karena Penggantian Sampel. Hal ini berkaitan dengan adanya perbedaan antara sampel yang diteliti dengan sampel yang ditetapkan. Misalnya, seseorang mahasiswa yang telah ditetapkan sebagai sampel tidak bisa dihubungi pada waktu akan diwawancarai atau diminta untuk mengisi kuesioner, lalu kita menggantinya dengan mahasiswa yang lain.

·         Penyimpangan karena salah tafsir dari petugas pengumpulan data maupun responden, yang dapat menyebabkan jawaban yang diperoleh dari responden menyimpang dari yang sebenarnya.

·         Penyimpangan karena salah tafsir responden. Biasanya disebabkan karena responden sudah lupa akan masalah yang ditanyakan.

·         Penyimpangan karena responden sengaja salah dalam menjawab pertanyaan. Hal ini dapat terjadi jika responden merasa curiga terhadap maksud dan tujuan penelitian, atau mungkin juga responden mempunyai maksud-maksud tertentu secara terselubung.

·         Penyimpangan karena kesalahan pengolahan data,  misalnya salah dalam menambahkan, mengalikan, dan sebagainya.

 

Sementara itu, masalah yang dihadapi dalam Pembuatan Kerangka Sampling, di antaranya adalah sebagai berikut:

·         Blank Foreign Elements

Yakni jika data populasi yang diperoleh dari sesuatu sumber tidak sesuai dengan kenyataannya di lapangan, sehingga terjadi orang yang sudah terpilih sebagai sampel tidak ditemui di lapangan. Hal ini disebabkan mungkin karena pendataannya yang tidak akurat atau datanya sudah kadaluarsa.

 

·         Incomplete Frame

Ketidaklengkapan kerangka sampling terjadi karena ada unsur populasi (orang) yang seharusnya masuk di dalamnya, justeru tidak tercatat.

 

·         Cluster of Elements

Kerangka sampling yang kita miliki tidak selamanya sama dengan yang kita butuhkan. Misalnya, jika kita ingin meneliti pelajar sekolah dasar yang bertempat tinggal di Kota A, kita tidak akan memperoleh daftarnya, yang kita temukan hanyalah daftar nama sekolah dasar yang ada di Kota A.

 

                                                                                                                

Buku-buku yang dianjurkan untuk dibaca:

1. Jalaluddin Rakhmat, 1995, Metode Penelitian Komunikasi, Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya.

2. Arthur Asa Berger, 2000, Media and Communication Research Methods, Thousand Oaks, London, New Delhi: Sage Publications, Inc.

3. Bridget Somekh and Cathy Lewin, 2005, Research Methods in The Social Sciences, London, Thousand Oaks, New Delhi: Sage Publications, Inc.

4. Masri Singarimbun dan Sofian Effendi, 1989, Metode Penelitian Survai, Jakarta: LP3ES.

5. Bambang Prasetyo dan Lina Miftahul Jannah, 2005, Metode Penelitian Kuantitatif: Teori dan Aplikasi, Jakarta: P.T. Radjagrafindo Persada.

6. Rachmat Kriyantono, 2006, Teknik Praktis Riset Komunikasi, Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Oleh: Dadang Sugiana

(Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung)

e-mai: dankfs@yahoo.co.id

A.     MENULIS BAB I

Bab I disebut juga sebagai Bab Pendahuluan yang isinya berupa uraian dan penjelasan mengenai latar belakang permasalahan yang diteliti, rumusan masalah, identifikasi masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, kerangka berpikir, metode atau prosedur penelitian, dan jadwal pelaksanaan penelitian. Isi Bab I merupakan pedoman utama bagi peneliti baik dalam melakukan kegiatan di lapangan (mencari data) maupun dalam mengolah dan menganalisis data, serta dalam menuliskan laporan penelitiannya. Oleh karena itu, dalam menulis Bab I peneliti benar-benar harus cermat dan akurat, sehingga isi Bab-bab selanjutnya benar-benar merupakan rangkaian sistematis yang saling berkaitan, yang semuanya merujuk pada Bab I.

 

Bagaimana menulis Latar Belakang Masalah?

Uraian dalam Latar Belakang Masalah (LBM) pada prinsipnya berupa penjelasan dan penegasan tentang duduk persoalan yang diteliti dan pentingnya penelitian yang dilakukan, yang berpatokan pada kecenderungan teoretis dan kecenderungan realistis mengenai fenomena yang diteliti. Dengan demikian, dalam menyusun LBM ini peneliti perlu mengemukakan secara ringkas kecendererungan-kecenderungan teoretis apa saja yang dan kecenderungan-kecenderungan realistis apa saja yang relevan dengan fenomena atau topik penelitiannya.

 

Dalam menguraikan kecenderungan teoretis, peneliti merujuk pada teori tertentu yang relevan dengan fenomena yang diteliti, sedangkan dalam menguraikan kecenderungan realistis peneliti merujuk pada fakta dan data awal hasil temuan (data sekunder) yang juga berkaitan dengan fenomena yang ditelitinya. Kedua kecenderungan tersebut perlu dipaparkan serta diindentifikasikan kesenjangannya (gap) agar peneliti dengan mantap dapat merumuskan permasalahan yang ditelitinya. Sebuah masalah dalam penelitian ilmiah harus dipandang sebagai kesenjangan (gap) antara aspek-aspek idealistik (teori) dengan aspek-aspek realistik (fakta atau data sekunder).

 

Ketidakjelasan permasalahan yang diteliti seringkali disebabkan karena dalam menguraikan LBM-nya peneliti semata-mata hanya berlandaskan pada pertimbangan logikanya. Padahal dalam penelitian ilmiah yang bersifat kuantitatif, keberadaan teori adalah mutlak harus  baik sebagai landasan maupun sebagai unsur ilmu yang akan diuji.

 

Uraian dalam LBM biasanya dilakukan dalam bentuk deduksi, yakni dimulai dengan uraian-uraian yang bersifat umum dan diakhiri dengan uraian yang bersifat khusus, yakni uraian yang berkaitan langsung dengan fenomena atau masalah yang diteliti. Dalam menggambarkan kondisi objektif (aspek realistik), peneliti dapat menggunakan formulasi seperti dalam bidang jurnalisme: What (apa yang sering terjadi), Who (siapa yang terkait di dalamnya), When (kapan masalah itu terjadi), Where (di mana maslah itu muncul secara spesifik), Why (mengapa fenomena tersebut bisa muncul), dan How (bagaimana kaitannya dengan fenomena yang lain).

 

Penggambaran tentang “apa yang diteliti atau dijelaskan”, dalam penelitian komunikasi (secara kuantitatif), tentu berkaitan dengan fenomena komunikasi, yakni segala gejala yang berkaitan dengan segala aktivitas manusia sebagai mahluk sosial dalam mengekspresikan ungkapan hatinya ketika berinteraksi dan berrelasi sosial dengan manusia-manusia lainnya, baik secara verbal maupun nonverbal, baik secara langsung maupun melalui media. Setiap gejala komunikasi atau gejala sosial itu dinyatakan dalam bentuk variabel-variabel. Variabel merupakan konsep yang memiliki variasi nilai, yang berlandaskan pada asumsi teoretis dari teori a pripori tertentu. Jadi, dalam menetapkan variabel-variabel penelitian, selain berpedoman pada realitas (fenomena) yang ada, juga harus mengacu pada teori tertentu yang dianggap relevan untuk digunakan sebagai landasan dalam mengungkapkan fenomena yang bersangkutan.

 

Variabel-variabel yang akan diteliti, secara eksplisit harus tercermin di dalam rumusan masalah, identifikasi masalah, dan tujuan penelitian yang akan diformulasikan setelah uraian LBM. Oleh karena itu, agar variabel-variabel yang tercantum dalam ketiga subbab itu tidak terkesan ujug-ujug dan mengada-ada, maka sinyalemennya harus sudah ada pada LBM. Misalnya, kita akan mengungkapkan fenomena: “Bagaimana tingkat pemahaman mahasiswa tentang materi perkuliahan tertentu serta faktor-faktor apa yang berkaitan dengan fenomena itu?”. Maka yang pertama-tama harus kita jelaskan adalah bahwa tingkat pemahaman mahasiswa tentang materi perkuliahan merupakan salah satu efek dari proses belajar dan pembelajaran. Lalu, proses belajar dan pembelajaran kita tegaskan sebagai salah satu wujud proses komunikasi (komunikasi instruksional). Selanjutnya kita perlu menelusuri teori apa yang relevan untuk mengungkapkan fenomena efektivitas peroses belajar (komunikasi instruksional) itu. Misalnya, kita temukakan teori kredibilitas komunikator yang salah satu asumsi teoretisnya (proposisinya) adalah “bahwa perubahan sikap dan perilaku khalayak sasaran komunikasi dipengaruhi oleh kredibilitas komunikatornya”. Dengan demikian, variabel utama dalam penelitian itu adalah Kredibilitas Dosen (Varaiebl X) dan Tingkat Pemahaman Mahasiswa Terhadap Materi Perkuliahan (Variabel Y). Dengan masih merujuk pada teori kredibilitas, kredibilitas komunikator misalnya diartikan sebagai seperangkat penilaian komunikan pada keahlian (expertness), sifat-sifat dapat dipercaya (trustworthiness), dan daya tarik (attractiveness) yang dimiliki komunikator, sedangkan perilaku komunikan diartikan sebagai tingkat pemahaman mahasiswa pada materi perkuliahan yang diampaikan dosen di ruang kuliah.

 

Dengan demikian, permasalahan yang kita teliti jelas dasar dan ruang lingkupnya, yakni di sekitar tingkat pemahaman mahasiswa dikaitkan dengan kredibilitas dosen ketika mengajar di ruang kuliah, dan ketika masalah tersebut dijabarkan ke dalam identifikasi masalah maka unsur-unsur kredibilitas yang akan tercermin di dalam identifikasi masalah (keahlian, sifat dapat dipercaya atau kejujuran, dan daya tarik dosen) jelas asal-usulnya.

 

Selain karena jelas landasan teorinya, kelayakan permasalahan atau topik yang diteliti (secara akademik), juga ditentukan oleh penting-tidaknya  penelitian yang bersangkutan dilakukan (the significance of the research) dilihat dari aspek praktis. Penelitian yang kita lakukan, selain penting atau layak secara akademik juga harus dapat memberikan kontribusi nyata secara operasional atau atau secara praktis (tataran implementasi). Oleh karena itu, dalam LBM peneliti juga harus menegaskan kedua kepentingan itu secara jelas dan lugas, yang secara spesifik nantinya akan dieksplisitkan di dalam rumusan kegunaan penelitian.

 

                             

Bagaimana Merumuskan Masalah Penelitian?

 

Rumusan Masalah adalah penegasan dari adanya kesenjangan antara aspek-aspek teoretis dan aspek-aspek realistis tentang fenomena yang diteliti, yang sebelumnya telah diuraikan pada LBM. Rumusan Masalah dalam penelitian ilmiah biasanya diformulasikan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Bagaimana kita membuat rumusan masalah, inilah contohnya:

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas, maka permasalahan yang diteliti dapat dirumuskan: “Apakah ada hubungan yang signifikan antara kredibilitas dosen dengan tingkat pemahaman mahasiswa pada materi perkuliahan?” atau “Bagaimana Kredibilitas dosen dalam proses belajar dan pembelajaran dan bagaimana tingkat pemahaman mahasiswa terhadap materi perkuliahannya?”                   

Bagaimana Menyusun Identifikasi Masalah?

 

Identifikasi Masalah adalah penjabaran lebih lanjut dari rumusan masalah           atau rincian variabel yang terkandung dalam rumusan masalah, di mana rincian variabel tersebut sinyalemennya sudah diungkapkan pada LBM. Contoh identifikasi masalah (untuk penelitian korelasional):

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka permasalahan yang diteliti dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

1.      Apakah ada hunbungan yang sigfnifikan antara keahlian dosen dalam proses belajar dan pembelajaran dengan tingkat pemahaman mahasiswa pada materi perkuliahan?

2.      Apakah ada hubungan yang signifikan antara kejujuran dosen dalam proses belajar dan pembelajaran dengan tingkat pemahaman mahasiswa pada materi perkuliahan?

3.      Apakah ada hubungan yang signifikan antara daya tarik dosen dalam proses belajar dan pembelajaran dengan tingkat pemahaman mahasiswa pada materi perkuliahan?

 

ATAU

                                    (untuk penelitian deskriptif)

      1. Bagaimana keahlian dosen dalam proses belajar dan pembelajaran?

            2.Bagaimana kejujuran dosen dalam proses belajar dan   pembelajaran?

            3.   Bagaimana daya tarik dosen dalam proses belajar dan pembelajaran?

           4. Bagaimana tingkat pemahaman mahasiswa pada materi perkuliahan?

 

 

Bagaimana Menulis Rumusan Tujuan Penelitian?

 

Tujuan Penelitian adalah hasil yang ingin diperoleh dari kegiatan penelitian. Hasil apa yang harus ditegaskan, sepenuhnya mengacu pada peranyaan-peranyaan yang dirumuskan dalam Rumusan Masalah dan/atau Identifikasi Masalah. Dengan demikian, rumusan tujuan penelitian merupakan bentuk jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam rumusan masalah dan identifikasi masalah. Tujuan penelitian dirumuskan dalam bentuk kalimat pernyataan bukan pertanyaan. Contohnya sebagai berikut:

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan tingkat signifikansi menenai:

1. Hubungan antara keahlian dosen  dalam proses belajar dan pembelajaran dengan tingkat pemahaman mahasiswa pada materi perkuliahan.

pembelajaran dengan tingkat pemahaman mahsiswa pada materi perkuliahan.

3. Hubungan antara daya tarik dosen dalam proses belajar dan pembelajaran dengan tingkat pemahaman mahasiswa pada materi perkuliahan.

 

ATAU

 

                        Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai:

1. Keahlian, kejujuran, dan daya tarik dosen dalam proses belajar dan pembelajaran di ruang kuliah.

2. Tingkat pemahaman masiswa pada materi perkuliahan yang disampaikan dosen di ruang kuliah.

 

Rumusan tujuan penelitian merupakan pedoman bagi peneliti dalam menentukan arauh penelitiannya dan akan sangat berimplikasi pada langkah-langkah selanjutnya. Misalnya, dlam menentukan metodologi atau prosedur penelitian, penentuan lokasi penelitian, bentuk pelaporan, distribusi laporan, dan lain-lain.

 

 

Bagaimana Menulis Kegunaan Penelitian?

 

Kegunaan penelitian adalah penegasan tentang harapan peneliti bahwa hasil yang diperoleh penelitiannya dapat memberikan manfaat atau kegunaan nyata baik secara akademik (kegunaan teoretis) maupun secara operasional (kegunaan praktis). Contoh rumusan kegunaan penelitian dapat dilihat di bawah ini:

 

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharpkan dapat memberikan kegunaan sebagai berikut:

1. Kegunaan Teoreitis

Dapat memperkaya khasanah kajian ilmiah di bidang komunikasi instruksional, khususnya yang berkaitan dengan kredibilitas dosen dalam hubungannya dengan efektivitas proses belajar dan pembelajaran di ruang kuliah.

 

2. Kegunaan Praktis

Dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi para pengambil kebijakan di perguruan tinggi dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses belajar dan pembelajarannya guna lebih meningkatkan efektivitas proses belajar dan pembelajaraan, terutama dalam mengembangkan kemampuan dan fungsi para dosen dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas.

 

Rumusan kegunaan penelitian, dalam batas-batas tertentu, dapat digunakan untuk menilai kelayakan penelitian (the significance of the research) yang dilakukan, baik dari aspek teroretis (akademis) maupun dari aspek praktis (operasional).

 

 

Bagaimana Menulis Kerangka Berpikir?

 

Kerangka Berpikir atau Kerangka Pemikiran dalam sebuah penelitian kuantitatif, sangat menentukan kejelasan dan validitas proses penelitian secara keseluruhan. Melalui uraian dalam kerangka berpikir, peneliti dapat menjelaskan secara komprehensif variabel-variabel apa saja yang diteliti dan dari teori apa variabel-variabel itu diturunkan, serta mengapa variabel-variabel itu saja yang diteliti. Uraian dalam kerangka berpikir harus mampu menjelaskan dan menegaskan secara komprehensif asal-usul variabel yang diteliti, yang sinyalemennya telah dikemukakan pada LBM, sehingga variabel-variabel yang tercatum di dalam rumusan masalah dan identifikasi masalah semakin jelas asal-usulnya.

 

Dengan demikian, uraian atau paparan yang harus dilakukan dalam kerangka berpikir adalah perpaduan antara asumsi-asumsi teoretis dan asumsi-asumsi logika dalam menjelaskan atau memunculkan variabel-variabel yang diteliti serta bagaimana kaitan di antara variabel-variabel tersebut, ketika dihadapkan pada kepentingan untuk mengungkapkan fenomena atau masalah yang diteliti. Di dalam menulis kerangka berpikir, ada tiga kerangka yang perlu dijelaskan, yakni: kerangka teoretis, kerangka konseptual, dan kerangka operasional. Kerangka teoretis adalah uraian yang menegaskan tentang teori apa yang dijadikan landasan serta asumsi-asumsi teoretis yang mana dari teori tersebut yang akan digunakan untuk menjelaskan fenomena yang diteliti. Kerangka konseptualmerupakan uraian yang menjelaskan konsep-konsep apa saja yang terkandung di dalam asumsi teoretis yang akan digunakan untuk mengabstraksikan (mengistilahkan) unsur-unsur yang terkandung di dalam fenomena yang akan diteliti dan bagaimana hubungan di antara konsep-konsep tersebut. Kerangka operasional adalah penjelasan tentang variabel-variabel apa saja yang diturunkan dari konsep-konsep terpilih tadi dan bagaimana hubungan di antara variabel-variabel tersebut, serta hal-hal apa saja yang dijadikan indikator untuk mengukur variabel-variabel yang bersangkutan.

 

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, maka dalam menyusun kerangka berpikir kita harus memulainya dengan menegaskan teori apa yang dijadikan landasan dan akan diuji atau digambarkan dalam penelitian kita. Lalu dilanjutkan dengan penegasan tentang asumsi teoretis (theorem) apa yang akan diambil dari teori tersebut sehingga konsep-konsep dan variabel-variabel yang diteliti menjadi jelas. Selanjutnya, kita menjelaskan bagaimana cara mengoperasionalisasikan konsep atau variabel-variabel tersebut sehingga siap untuk diukur. Proses penetapan teori serta penurunannya ke dalam bentuk konsep dan variabel sebaiknya juga dilengkapi dengan gambar kerangka penelitian.

Contoh Gambar Kerangka Penelitian:

 

 

FENOMENA YANG DITELITI

Kredibilitas Dosen dan Tingkat Pemahaman Mahasiswa  pada Materi Kuliah

TEORI YANG DIGUNAKAN

Teori Kredibilitas Komunikator

 

 

 

                                   

 

ASUMSI TEORETIS:

Efektivitas komunikasi ditentukan kredibilitas komunikakator yang di dalamnya meliputi penilaian komunikan pada keahlian, kejujuuan, dan daya tarik yang dimiliki oleh komunikator.

RUMUSAN MASALAH:

Apakah ada hubungan yang signifikan antara kredibilitas dosen dalam proses belajar dan pembelajaran dengan tingkat pemahaman mahasiswa pada materi perkuliahan yang disampaikan oleh dosen di ruang kuliah?

VARIABEL  Y

 

TINGKAT PEMAHAMAN MAHASISWA PADA MATERI KULIAH

VARIABEL X; KREDIBILITAS DOSEN

 

X1: Keahlian Dosen

X2: Kejujuran Dosen

X3: Daya Tarik Dosen

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
 
 

 

Walaupun dalam kerangka berpikir itu harus terkandung kerangka teoretis, kerangka konseptual, dan kerangka operasional, tetapi cara penguraian atau cara pemaparannya tidak perlu kaku dibuat per subbab masing-masing. Hal yang penting adalah bahwa isi pemaparan kerangka berpikir merupakan alur logika berpikir kita mulai dari penegasan teori serta asumsinya hingga munculnya konsep dan variabel-variabel yang diteliti.

Agar peneliti benar-benar dapat menyusun kerangka berpikir secara  ilmiah (memadukan antara asumsi teoretis dan asumsi logika dalam memunculkan variabel) dengan benar, maka peneliti harus intens dan eksten menelurusi literatur-literarur yang relevan serta melakukan kajian terhadap hasil penelitian-penelitian terdahulu yang ₀relevan, sehingga uraian yang dibuatnya tidak semata-mata berdasarkan pada pertimbangan logika (tidak sekadar ngecap). Untuk itu, dalam menjelaskan kerangka teoretisnya, peneliti mesti merujuk pada literatur atau referensi serta laporan-laporan penelitian terdahulu.

 

Bagaimana Merumuskan Hipotesis Penelitian?

Begitu selesai menyusun kerangka berpikir (kerangka pemikiran), langkah berikutnya yang harus dilakukan peneliti adalah merumuskan hipotesis (terutama jika penelitiannya dirancang sebagai sebuah penelitian eksplanatif; untuk penelitian deskriptif tidak perlu ada hipotesis). Hipotesis adalah dugaan sementara yang bersifat tentatif yang diambil dari hasil penelaahan terhadap asumsi-asumsi teoretis ketika menyusun kerangka pemikiran.

Hipotesis dalam penelitian terbagi ke dalam dua jenis: Hipotesis Teoretis atau Hipotesis Nol (Ho) dan Hipotesis Penelitian atau Hipotesis Kerja (Hi). Hipotesis Nol dirumuskan dalam kalimat negatif : “Tidak ada hubungan yang signifikan antara kredibilitas dosen dengan tingkat pemahaman mahasiswa pada materi kuliah”, sedangkan Hipotesis Kerja dirumuskan dalam kalimat positif: “Ada hubungan yang signifikan antara kredibilitas dosen dengan tingkat pemahaman mahsiswa pada materi kuliah”. Selanjutnya, hipoteis kerja (Hi) perlu dijabarkan ke dalam sub-subhipotesis sesuai dengan banyaknya identifikasi masalah penelitian atau banyaknya subvariabel yang akan dihubungkan satu sama lain. Misalnya, hipotesis kerja (Hi) di atas dijabarkan kedalam subhipotesis sebagai berikut:

H1:   Ada hubungan yang signifikan antara keahlian dosen dalam proses belajar dan pembelajaran dengan tingkat pemahaman mahsiswa pada materi kuliah yang disampaikan dosen di kruang kuliah.

H2:   Ada hubungan yang signifikan antara kejujuran dosen dalam proses belajar dan pembelajaran dengan tingkat pemahaman mahsiswa pada materi perkuliahan yang disampaikan dosen di ruang kuliah.

H3:   Ada hubungan yang signifikan antara daya tarik dosen dalam proses belajar dan pembelajaran dengan tingkat pemahaman mahasiswa pada materi perkuliahan yang disa,paikan dosen di ruang kuliah.

 

Bagaimana Menyusun Operasionalisasi Variabel?

Variabel-variabel yang akan diteliti, yang tercermin di dalam identifikasi masalah, bagan kerangka penelitian, atau dalam rumusan hipotesis, selanjutnya harus dioperasionalisasikan agar variabel-variabel tersebut dapat diukur dengan tepat sehingga aspek validitas dan reliabilitas pengukurannya terjamin. Mengoperasionalisasikan variabel berarti memberikan penjelasan secara operasional bagaimana variabel-variabel itu didefinisikan (diberikan batasan), indikator-indikator apa yang digunakan untuk mengukurnya, tingkat atau skala pengukuran apa yang digunakan, dan bagaimana cara pengukurannya. Oleh karena itu, dalam mengoperasionalisasikan variabel maka langkah-langkah yang harus ditempuh adalah sebagai berikut:

1. Mendefinisikan secara operasional seluruh variabel yang akan diteliti atau diukur. Definisi operasional adalah batasan pengertian tentang variabel yang diteliti yang di dalamnya sudah mencerminkan indikator-indikator yang akan digunakan untuk mengukur variabel yang bersangkutan. Definisi operasional berbeda dengan definisi konseptual. Definisi konseptual adlah batasan pengertian tentang konsep yang masih bersifat abstraks yang biasanya merujuk pada definisi yang ada pada buku-buku teks. Namun demikian, sebaik-baiknya definisi operasional adalah definisi yang merujuk atau berlandaskan pada definisi konseptual. Contoh definisi konseptual: “Kredibilitas Komunikator adalah seperangkat penilaian komunikan terhadap sifat-sifat yang dimiliki oleh komunikator, menyangkut keahlian, kejujuran, dan daya tarik”. Sedangkan contoh definisi operasional adalah: “ Keahlian dosen dalam mengajar adalah penilaian mahasiswa tentang kemampuan dosen dalam menyampaikan materi perkuliahan, menjawab pertanyaan mahasiswa, memberikan contoh-contoh konkret, dan penguasaan dosen terhadap materi perkuliahan yang disampaikannya.

2. Menginventarisasi dan mendefinisikan indikator-indikator. Inventarisasi indikator yang akan digunakan untuk mengukur variabel dapat ditelusuri dari definisi operasional yang sudah dibuat. Sebagai contoh, untuk menginventarisasi indikator-indikator yang akan digunakan untuk mengukur keahlian dosen dalam proses belajar dan pembelajaran, kita dapat menemukan indikator: kemampuan dosen dalam menyampaikan materi perkuliahan, kemampuan dosen dalam menjawab pertanyaan mahasiswa, kemampuan dosen dalam memberikan contoh konkret, dan pemahaman dosen mengenai materi perkuliahan yang disampaikannya. Jika indikator-indikator itu masih memungkinkan menyebabkan penafsiran yang berbeda-beda, maka indikator tersebut perlu juga untuk didefenisikan lebih lanjut.

3. Menentukan tingkat atau skala pengukuran yang akan digunakan, apakah digunakan skala nominal, ordinal, interval, atau rasio. Penentuan skala pengukuran ini penting dilakukan terutama jika penelitian kita dirancang sebagai sebuah penelitian eksplanatif (misalnya penelitian korelasional), sebab akan menentukan uji statistik inferensial yang mana yang sesuai untuk digunakan dalam menguji hipotesis penel;itian yang telah dirumuskan.

4. Menentukan cara atau mekanisme pengukuran variabel, yaklni menentukan alat atau instrumen apa yang akan digunakan serta bagaimana cara penggunaannya. Misalnya, kita akan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner atau angket, dan kita harus menjelaskan mengapa instrumen itu yang dipilih dan bagaimana cara penggunaannya.

 

Bagaimana Menyusun Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen?

Apabila instrumen penelitaian, misalnya, kuesioner atau angket, yang kita gunakan disusun sendiri dan belum terbukti validitas dan reliablitasnya, maka instrumen itu harus diuji tingkat validitas dan reliabilitasnya. Validitas instrumen menyangkut tingkat ketepatan alat ukur itu untuk digunakan mengukur apa yang akan kita ukur. Sedangkan reliabilitas instrumen menyangkut tingkat ketetapan hasil pengukuran yang diperoleh jika instrumen tersebut digunakan beruiang-ulang pada waktu dan tempat yang berbeda.

Banyak pilihan untuk menetukan validitas instrumen penelitian, misalnya validitas konstruk, validitas isi, validitas prediktif, validitas eksternal, dan lain-lain. Begitupula mekanisme uji reliabilitas instrumen (Silakan baca buku-buku metode penelitian kuantitatif yang ada di lemari buku Anda!).

 

Bagaimana Menyusun Metodologi atau Prosedur Penelitian?

Prosedur atau metode peneliian adalah cara-cara yang ditempuh atau digunakan dalam melakukan kegiatan penelitian. Untuk menentukan prosedur penelitian apa dan bagaimana mengimplementasikannya, kita dapat berpedoman pada identifikasi masalah dan tujuan penelitian yang sebelumnya sudah dirumuskan.

Hal-hal yang perlu ditegasdkan dalam uraian metodologi atau prosedur penelitian meliputi: desain atau rancangan dan metode penelitian, jenis data dan sumber data yang digunakan, teknik pengumpulan data yang digunakan, teknik analisis data yang digunakan, dan populasi penelitian serta teknik sampling yang digunakan, dan (mungkin juga) jadwal dan lokasi penelitian.

 

Contoh uraian prosedur penelitian (secara ringkas):

Penelitian ini dirancang sebagai sebuah penelitian survei yang bersifat eksplanatori atau eksplanatif dengan menggunakan metode korelasional. Pengunaan desain dan metode tersebut didasarkan pada tujuan penelitian, yakni ingin menemukan tingkat signifikansi antara kredibilitas dosen dalam proses belajar dan pembelajaran dengan tingkat pemahaman mahasiswa pada materi perkuliahan. Untuk mengukur variabel-variabel yang diteliti, digunakan dua jenis data yakni data primer dan data sekunder. Data Primer bersumber langsung dari responden penelitian dan pihak-pihak yang relevan, sedangkan data sekunder bersumber pada dokumentasi serta referensi-referensi yang relevan. Untuk memperoleh data primer digunakan teknik pengumpulan data berupa penyebaran kuesioner kepada seluruh responden, wawancara tak berstruktur dengan pihak-pihak terkait, dan observasi nonpartisipatori dalam kegiatan yang menjadi objek penelitian. Untuk menentukan responden sebagai sumber utama data primer, maka populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Fikom Unpad yang secara resmi terdaftar pada semester genap tahun 2007/2008, sedangkan untuk menentukan sampel penelitian (responden) digunakan teknik sampling random sederhana (simple random sampling technique). Berdasarkan data pada Sub Bagian Pendidikan Fikom Unpad, jumlah mahasiswa yang terdaftar resmi pada semester genap 2007/2008 sebanyak 7.824 orang. Dengan demikian, ukuran populasi penelitian(N populasi) ini adalah 7.824 orang. Penentuan ukuran sampel (n sampel) digunakan perhitungan dengan rumus Slovin. Selanjutnya data yang berhasil djaring melalui instrumen penelitian akan dianalisis baik dengan menggunakan analisis statistik deskriptif (untuk menggambarkan variabel demi variabel) maupun dengan menggunakan statistik inferensial (untuk menguji hipotesis). Untuk menguji hipotesis tersebut digunakan rumus uji Korelasi Rank Spearman (Spearman’s Rank Order Correlation). Penentuan uji ini didasarkan pada skala pengukuran yang digunakan, yakni skala ordinal. Adapun kriteria pengujian hipotesisnya adalah: Tolak Ho jika rs hasil perhitungan sama dengan rs pada Tabel Harga Kritis untuk rs pada derajat kebebasab df = n-2 dan taraf signifikansi α = 0,01 untuk tes dua arah. Dalam beberapa hal akan juga digunakan kriteria: Tolak Ho jika nilai t hasil perhitungan sama dengan atau lebih besar daripada nilai t pada Tabel Harhga-harga Kritis untuk t pada df = n -2 dan taraf signifikansi α = 0,01 untuk tes dua arah.

Dalam tataran konkret, uraian prosedur atau metode penelitian hendaknya disusun per subpokok bahasan masing-masing item, secara jelas dan komprehensif. Jadi, perlu ada sub bahasan tentang: desain dan metode penelitian, jenis data dan sumber data, teknik pengumpulan data, populasi dan teknik sampling, teknik analisis data, dan lain-lain.

 

B. MENULIS BAB II

Bab II biasanya diberi judul TINJAUAN PUSTAKA atau TINJAUAN TEORETIS, yang isinya memaparkan aspek-aspek teoretis tentang fenomena atau masalah yang diteliti. Kekeliruan yang seringkali dilakukan oleh peneliti dalam menulis Bab II ini adalah bahwa peneliti sering terjebak untuk menguraikan segala hal ikhwal yang berasal dari referensi tanpa memperhatikan relevansinya. Ada anggapan bahwa semakin banyak kutipan yang ditampilkan semakin baik isi Bab II, semakin tebal halamannya semakin keren. Hal ini jelas KELIRU!!!. Isi Bab II bukan merupakan book report atau book review atau pamer kutipan, tetapi harus merupakan pemaparan yang lebih menegaskan kerangka pemikiran peneliti dalam memunculkan variabel-variabel yang ditelitinya serta konteks penelitiannya. Oleh karena itu, isi pemaparan Bab II selayaknya dimulai dengan pemaparan tentang teori yang dijadikan landasan dalam penelitian secara lebih komprehensif daripada apa yang sudah dipaparkan dalam kerangka pemikiran.Seluruh uraian pada Bab II harus lebih bersifat teoretis dengan tanpa atau sedikit sekali memasukkan unsur logika peneliti.

Dengan demikian, sumber rujukan pokok dalam menulis Bab II adalah referensi atau literatur . Referensi atau literatur yang digunakan bisa berupa buku-buku teks, laporan penelitian terdahulu, situs internet, tulisan pada jurnal ilmiah, artikel di media massa, dan dokumentasi tertulis lainnya.

Sebagai contoh, isi pemaparan pada Bab II dapat disusun sebagai berikut:

2.1 Konsep Dasar Kredibilitas Komunikator

2.2 Asumsi-asumsi Teoretis dalam Teori Kredibilitas

2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Belajar dan Pembelajaran

2.4 Proses Belajar dan Pembelajaran Sebagai Kegiatan Komunikasi Instruksional

2.5 Peran dan Fungsi Pengajar dalam Mewujudkan Efektivitas Belajar Mengajar

dan seterusnya.

 

C. MENULIS BAB III

Dalam penelitian kuantitatif, isi Bab III pada umumnya berisi uraian mengenai objek penelitian, sehingga diberi judul Gambaran Umum tentang Objek Penelitian (misalnya, Gambaran Umum Proses Belajar dan Pembelajaran di Fikom Unpad). Subpokok bahasannya, dapat dimulai dengan menguraikan sejarah keberadaan objek yang diteliti, karakteristik umum dan karakteristik khusus objek yang diteliti, sarana dan prasarana, aspek sumber daya manusia, dan lain-lain.

Namun demikian, isi Bab III ada kalanya bukan sekadar memaparkan gambaran umum objek yang diteliti tetapi juga memaparkan metodologi penelitian. Jika ini yang dipilih, maka uraian metodologi penelitian yang sudah diuraikan pada Bab I harus dijelaskan pada Bab III, dengan lebih menekankan pada aspek implementatisinya secara nyata dalam proses penelitian kita. Awas, jangan sampai terjebak pada tindakan sekadar untuk memindahkan teori metodologi dari buku-buku ke dalam uraian metodologi dalam penelitian kita. Pemaparan metodologi pada Bab III ini benar-benar harus berupa  penjelasan tentang langkah-langkah konkret yang kita lakukan dalam melaksanakan kegiatan penelitian kita.

 

MENULIS BAB IV

Uraian pada Bab IV biasanya berisi deskripsi dan pembahasan hasil penelitian yang diperoleh. Pendeskripsian yang dilakukan menyangkut data hasil penelitian, baik data mengenai responden maupun data mengenai  hasil pengukuran variabel-variabel yang diteliti.

Penggambaran data karakteristik responden perlu dilakukan untuk memperoleh gambaran yang komprehensif tentang bagaimana keadaan responden penelitian kita, yang boleh jadi diperlukan untuk mengelaborasi data hasil pengukuran variabel-variabel yang diteliti jika sekiranya terdapat data yang memerlukan penjelasan dan penafsiran lebih lanjut. Sementara itu pendeskripsian data hasil pengukuran variabel (data penelitian) diperlukan untuk memperoleh gambaran yang komprehensif tentang variabel-variabel yang diteliti, satu demi satu, sehingga dapat dilakukan analisis dan interpretsi secara parsial sebagai bahan utama untuk nanti membuat analisis data secara menyeluruh dan menyimpulkan hasil penelitian.

Setelah dilakukan deskripsi data, khususnya untuk penelitian eksplanatif yang mengharuskan adanya pengujian hipotesis, analisis data dan pembahasan hasil penelitian perlu dilakukan dengan menggunakan analisis statistik inferensial. Di sini dipaparkan bagaimana proses dan hasil pengujian statistik inferensial itu, apakah terjadi penolakan hipotesis atau sebaliknya.

 

Bagaimana cara melakukan analisis deskriptif?

Analisis deskriptif dilakukan pada data hasil pengolahan statistik deskriptif, yang biasanya dipresentasikan pada tabel-tabel distribusi frekuensi, baik tabel tunggal maupun tabel silang.Tabel tunggal adalah tabel yang berisi data hasil pengukuran satu variabel, sedangkan tabel silang adalah tabel yang berisi data hasil pengukuran dua variabel atau lebih.

Selanjutnya, data yang dipresentasikan dalam tabel-tabel distribusi frekuensi perlu dideskripsikan secara naratif (dengan catatan: tidak harus berupa pengulangan dari isi tabel), yakni memaparkan secara sistematik bagaimana hasil pengukuran variabel-varlabel yang diteliti. Lalu dilakukan analisis, yakni mengupas atau mengkritisi data dengan menggunakan konsep-konsep atau asumsi teoretis yang sudah diungkapkan pada Bab II (Tinjauan Pustaka). Apa yang tercantum pada Bab II adalah aspek idealitas (teoretis), sedangkan data yang dihasilkan adalah aspek realitas dari fenomena yang diteliti. Dengan demikian, menganalisis data berarti membandingkan secara kritis data hasil temuan dengan asumsi-asum teoretis. Selanjutnya, berikan interpretasi atas data yang dianilisis tersebut, sehingga peneliti memperoleh kesimpulan secara parsial. Analisis deskriptif dilakukan terhadap setiap variabel, satu demi satu secara sistematis.

 

Bagaimana cara melakukan analisis statistik inferensial?

Analisis statistik inferensial, sebagaimana telah diungkapkan di bagian terdahulu, adalah pemaparan, pengupasan, dan penafsiran data sehubungan dengan pengujian hipotesis. Data hasil pengujian hipotesis melalui uji statistik inferensial perlu dipaparkan dan dianalisis apa maknanya, lalu bahas dengan asumsi-asumsi teoretis yang sudah ada pada Bab II. Hasil pemaknaan itulah yang harus dijadikan bahan utama dalam pembahasan dan penyimpulan.

                                                  

Bagaimana Menetapkan Pokok Bahasan?

Sistematika bahasan pada Bab IV seyogyanya disusun berdasarkan urutan dalam menjawab identifikasi masalah atau tujuan penelitian. Oleh karena itu, jika penelitian kita mengandung tiga tujuan penelitian, maka isi pokok bahasan pada Bab IV setidak-tidaknya mengandung tiga pokok bahasan tersebut, yang boleh jadi sebelumnya diawali dengan pokok bahasan mengenai karakteristik responden penelitian.

 

D. MENULIS BAB V

Bab V biasanya berisi kesimpulan dan saran penelitian. Berapa banyak kesimpulan penelitian yang harus dibuat? Apa saja yang harus disimpulkan? Berapa banyak saran yang harus diajukan?  Apa saja yang harus disarankan? Hal-hal itu seringkali menjadi pertanyaan klasik peneliti ketika akan mulai menulis Bab V.

Banyaknya kesimpulan dan apa yang harus dsimpulkan tergantung pada jumlah dan isi tujuan penelitian, sedangkan isi kesimpulannya tergantung pada hasil penelitian dan pembahasan yang ada pada Bab IV. Sedangkan saran penelitian, aspeknya harus merujuk pada rumusan kegunaan penelitian yang sudah diungkapkan pada Bab I dan isinya tergantung pada isi kesimpulan penelitian. JIka kesimpulan dan saran penelitian itu disusun seperti yang dikemukakan di atas, maka tidak ada alasan bagi orang lain untuk menuduh bahwa kesimpulan penelitian kita mengada-ngada, atau saran yang kita ajukan adalah saran sok tahu. Oke, selamat bekerja!

 

Buku-buku yang dianjurkan untuk dibaca:

1. Jalaluddin Rakhmat, 1995, Metode Penelitian Komunikasi, Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya.

2. Arthur Asa Berger, 2000, Media and Communication Research Methods, Thousand Oaks, London, New Delhi: Sage Publications, Inc.

3. Bridget Somekh and Cathy Lewin, 2005, Research Methods in The Social Sciences, London, Thousand Oaks, New Delhi: Sage Publications, Inc.

4. Masri Singarimbun dan Sofian Effendi, 1989, Metode Penelitian Survai, Jakarta: LP3ES.

5. Bambang Prasetyo dan Lina Miftahul Jannah, 2005, Metode Penelitian Kuantitatif: Teori dan Aplikasi, Jakarta: P.T. Radjagrafindo Persada.

6. Racmat Kriyantono, 2006, Teknik Praktis Riset Komunikasi, Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Oleh: dankfsugiana | 26 ,Mei, 2008

KONSEP DASAR METODE PENELITIAN KOMUNIKASI(KUANTITATIF)

Oleh: dankfsugiana | 22 ,April, 2008

KONSEP DASAR KOMUNIKASI SOSIAL DAN PEMBANGUNAN

 

 

 PENDAHULUAN

            Istilah Komunikasi Sosial dan Pembangunan sesungguhnya merupakan gabungan dari dua istilah, yakni Komunikasi Sosial dan. Komunikasi Pembangunan. Secara substansial, kedua istilah tersebut tidak mengandung perbedaan. Artinya, materi bahasan yang terkandung di dalamnya sama-sama berbicara tentang bagaimana komunikasi harus dilakukan, sehingga berperan sebagai penunjang pelaksanaan program-program pembangunan dalam rangkan menciptakan perubahan pada suatu sistem sosial, yakni perubahan sosial (social changes).

            Secara teoretis, pembangunan merupakan upaya untuk menciptakan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik, sehingga program-program pembangunan yang dicanangkan senantiasa bersifat ide-ide pembaruan (inovasi), baik yang berupa fisik maupun nonfisik. Program pembangunan yang bersifat fisik, misalnya berupa pembangunan infrastruktur, sedangkan program pembangunan yang brsifat nonfisik misalnya pembangunan suprastruktur dan pemberdayaan manusia (sumber daya manusia).

            Oleh karena itu, proses komunikasi pembangunan dan/atau komunikasi sosial selalui ditandai dan dimulai dengan aktivitas difusi inovasi yang dilanjutkan dengan aktivitas pembangunan masyarakat (community development) dengan tujuan agar pelaksanaan program-program pembangunan tersebut benar-benar berdampak positif terhadap masyarakat yang menjadi sasarannya.

            Sehubungan dengan hal-hal di atas, untuk dapat memiliki pemahaman tentang komunikasi sosial dan pembangunan (komunikasi pembangunan) secara sistematis dan komprehensip, kita perlu memilki pemahahaman awal tentang konsep-konsep: sistem sosial, perubahan sosial, difusi, inovasi, pembangunan, dan komunikasi pembangunan itu sendiri.

 

 

SISTEM SOSIAL

            Dalam proses komunikasi pembangunan, sistem sosial merupakan target atau sasaran dari perubahan yang akan diciptakan. Sistem sosial dapat didefinisikan sebagai suatu kumpulan unit yang berbeda secara fungsional dan terikat dalam kerjasama untuk memecahkan masalah dalam rangka mencapai tujuan bersama. Sebuah sistem sosial terdiri dari subsitem-subsistem sosial yang dalam konteks tertentu dapat pula menjadi sistem tersendiri (sitem sosial tersendiri). Ditinjau dari luas lingkupnya, sistem sosial dapat berupa sistem yang sangat besar, misalnya sebuah bangsa, sebuah komunitas budaya, komunitas sosial, dan masyarakat. Namun demikian, sistem sosial dapat pula berupa kumpulan unit manusia dalam skala kecil, misalnya organisasi dan kelompok.

 

 

PERUBAHAN SOSIAL

            Perubahan sosial adalah proses di mana terjadi perubahan struktur dan fungsi suatu sistem sosial. Perubahan tersebut terjadi sebagai akibat masuknya ide-ide pembaruan yang diadopsi oleh para anggota sistem sosial yang bersangkutan. Proses perubahan sosial biasa tediri dari tiga tahap:

  1. Invensi, yakni proses di mana ide-ide baru diciptakan dan dikembangkan
  2. Difusi, yakni proses di mana ide-ide baru itu dikomunikasikan ke dalam sistem sosial.
  3. Konsekuensi, yakni perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem sosial sebagai akibat pengadopsian atau penolakan inovasi. Perubahan terjadi jika penggunaan atau penolakan ide baru itu mempunyai akibat.

 

 

Jenis-jenis Perubahan Sosial

            Salah satu cara untuk mengidentifikasi jenis-jenis perubahan sosial yang terjadi adalah dengan mencermati dari mana sumber terjadinya perubahan itu. Jika perubahan itu bersumber dari dalam sistem sosial itu sendiri, perubahan yang terjadi disebut perubahan imanen. Sedangkan jika sumbernya ide baru itu berasal dari luar sistem sosial, disebut perubahan kontak.

            Perubahan imanen terjadi jika anggota sistem sosial menciptakan dan mengembangkan ide baru dengan sedikit atau tanpa pengaruh sama sekali dari pihak luar dan kemudian ide baru itu menyebar ke seluruh sistem sosial.

            Perubahan kontak terjadi jika sumber dari luar sistem sosial memperkenalkan ide baru ke dalam suatu sistem sosial. Dengan demikian, perubahan kontak merupakan gejala “antarsistem”. Ada dua macam perubahan kontak, yaitu perubahan kontak selektif dan perubahan kontak terarah. Perbedaan perubahan tersebut tergantung dari mana kita mengamati datangnya kebutuhan untuk berubah itu, dari dalamkah atau dari luar sistem sosial.

            Perubahan kontak selektif terjadi jika anggota sistem sosial terbuka pada pengaruh dari luar (bersikap kosmopolitan) pada pengaruh dari luar dan menerima atau menolak ide baru itu berdasarkan kebutuhan yang mereka rasakan sendiri (felt-needs). Perubahan kontak terarah atau perubahan terencana (planned changes) adalah perubahan yang disengaja dengan adanya orang luar atau sebagian anggota sitem sosial yang bertindak sebagai agen pembaru (agent of changes) yang secara intensifberusaha memperkenalkan ide-ide baru untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh lembaga dari luar.

            Ditinjau dari cakupan sasarannya, perubahan sosial dapat berupa perubahan dalam tataran mikro dan tataran makro. Perubahan yang terjadi dalam tataran mikro adalah perubahan yang terjadi dalam level individual, ketika seseorang menerima atau menolak inovasi, sehingga berdampak pada perilaku orang tersebut, baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Perubahan yang terjadi dalam tataran makro adalah perubahan pada level sistem sosial, ketika dalam sistem sosial terjadi struktur dan fungsi sistem sosial.

 

KOMUNIKASI DAN PERUBAHAN SOSIAL

            Komunikasi merupakan unsur yang sangat penting dalam proses perubahan sosial. Kita sama-sama paham, secara sederhana komunikasi adalah proses di mana pesan-pesan dioperkan dari sumber kepada penerima, baik secara langsung maupun melalui media tertentu. Dalam proses perubahan sosial, pesan-pesan yang terkandung dan dioperkan oleh sumber kepada penerima itu berupa ide-ide pembaruan atau inovasi. Oleh karena itu, komunikasi yang digunakan untuk menciptakan perubahan sosial dikenal dengan istilah komunikasi sosial atau komunikasi pembangunan.

            Salah satu tipe komunikasi sosial/komonikasi pembangunan yang paling menonjol adalah difusi. Difusi merupakan proses dimana inovasi tersebar ke dalam sistem sosial. Oleh karen itu, difusi dipandang sebagai kajian komunikasi tersendiri yang memokuskan telaahan tentang pesan-pesan yang berupa gagasan baru.

 

Unsur-unsur Difusi

            Difusi sebagai sebuah proses penyebaran ide baru dapat terjadi jika ada (1) inovasi yang (2) dikomunikasikan memlalui saluran tertentu (3) dalam jangka waktu tertentu, kepada (4) anggota suatu sitem sosial.

            Inovasi adalah gagasan, tindakan atau barang yang dianggap abru oleh seseorang di mana kebaruannya itu bersifat relatif. Suatu gagasan dapat dianggap sebagai sebuah inovasi oleh anggota sistem sosial tertentu, tetapi juga dapat dianggap bukan inovasi oleh anggota sistem sosial lainnya.

            Saluran komunikasi dalam proses difusi dapat berupa media massa atau media interpersonal. Jangka waktu adalah banyaknya waktu yang dibutuhkan untuk melakukan proses penyebaran inovasi dan proses pengambilan keputusan adopsi oleh anggota sistem sosial. Kecepatan adopsi oleh anggota sistem sosial tergantung pada tingkat keinovatifan anggota sistem sosial serta ciri karakteristik inovasi yang ditawarkan dalam pandangan anggota sistem sosial.

            Ciri karakteristik atau sifat inovasi terdiri dari:

  1. Keuntungan Relatif (Relative Advantage)
  2. Kompatibilitas (Compatibility)
  3. Kompleksitas (Complexity)
  4. Trialabilitas (Trialability)
  5. Obsevabilitas (Observability)

 

            Tingkat keinovatifan anggota sistem sosial disebut kategori adopter terdiri dari:

Inovator, adopter pemula, mayoritas awal, mayoritas akhir, dan laggard.

 

Catatan:

Materi kuliah ini sebagian besar merujuk pada: Rogers, E.M. dam F.F. Shoemaker, 1987, Communication of Innovations: A Cross Cultural Approach, The Frre Press, New York.

Kategori